Berita

Pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla di Pilpres 2014. (Foto: ANTARA)

Politik

Jokowi-PSI Babak Belur Usai Serang JK Pakai Isu Agama

MINGGU, 17 MEI 2026 | 01:25 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Fenomena “JK Effect” dapat menjadi batu ujian serius bagi masa depan politik trah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Hal itu ia ungkapkan Pengamat politik sekaligus Guru Besar London School of Public Relations (LSPR) Lely Ariani dalam diskusi Obor Rakyat Reborn bertajuk JK Effect dan Nasib Trah Jokowi 2029 yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 16 Mei 2026.

Menurut Lely, polemik yang terjadi usai pernyataan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) soal isu ijazah Jokowi justru memperluas tekanan politik terhadap lingkar kekuasaan Jokowi.


“Peristiwa dengan Pak JK ini adalah batu ujian yang menurut saya justru lebih luas daripada sekadar anekdot-anekdot politik picisan yang dibangun selama ini tentang keberadaan Pak Jokowi,” ujar Lely.

Selain itu, kata dia, PSI sendiri juga akan semakin sulit bangkit atau rebound menuju Pemilu 2029. 

Menurutnya, branding PSI sebagai “partainya Jokowi” pada Pemilu 2024 tidak berhasil mendongkrak suara partai tersebut.

“Ketika PSI mengklaim diri sebagai partai Jokowi, ternyata tidak menang. Artinya, tidak ada branding nama Pak Jokowi di sana yang bisa dilihat oleh pemilih,” jelasnya.

Lely juga menyoroti keberadaan relawan dan elite politik di sekitar Jokowi yang dinilai justru berpotensi menggerogoti wibawa mantan Presiden tersebut lewat manuver politik mereka.

“Kelakuan-kelakuan politiknya inilah yang bisa membuat Pak Jokowi itu bersinar atau tenggelam,” tuturnya.

Sementara itu, Eks Wakil Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budianto Tarigan mengatakan bahwa Jokowi dan PSI akan babak belur karena memainkan isu sara terhadap Jusuf Kalla. 

Budianto menilai hubungan Jokowi dan JK mulai memanas setelah JK meminta agar ijazah Jokowi diperlihatkan kepada publik.

"Begitu Pak JK mengatakan 'tunjukkan saja ijazahnya kalau ada,' ya udah berentet semua nih pelaporan-pelaporan ini dan pemotongan-pemotongan video pidato Pak JK," bebernya.

Namun, ia mengatakan bahwa baik Jokowi dan PSI salah langkah karena mencoba memainkan isu sara terhadap Jusuf Kalla.

"Jadi kesimpulan saya, hari ini PSI kedodoran, Pak Jokowi juga babak belur. Ketiga, jangan coba-coba memainkan isu agama dalam kepentingan politik," tambahnya.

Padahal dirinya berharap Jokowi dapat menunjukkan ijazahnya langsung ketika mendapat permintaan langsung dari JK dalam mengakhiri perdebatan keabsahan ijazah Jokowi.

"Mereka ini kan pernah relasi yang dekat kan. Berdua nih, satu presiden, satu wakil. Masa sih susah-susah, Pak Jokowi?" tegasnya.

Sementara Mantan Penasihat spiritual Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi, Sri Eko Sriyanto Galgendu mengungkapkan dalang dibalik masalah ijazah palsu ialah Jokowi sendiri. 

“Kalau kemudian kita bicara masalah ijazah palsu Pak Jokowi, maka saya selalu memberikan suatu pemahaman siapa yang sebenarnya menjadi dalang suatu permasalahan,” kata Eko dalam forum diskusi. 

Ia lantas mengibaratkan kasus tersebut dengan legenda Joko Tingkir. Dalam kisah itu, kata dia, Joko Tingkir ialah tokoh yang mau menjadi pahlawan dan diminta untuk mencari banteng. 

Ia melanjutkan, sang raja lantas menggelar sayembara untuk menaklukkan banteng tersebut dengan hadiah akan mengangkatnya menjadi menantu. Setelahnya, Joko Tingkir maju mengatasi banteng itu agar bisa menjadi pahlawan. 

“Ada satu kalimat yang kalau ini kemudian terus diutarakan, di setiap membicarakan permasalahan ijazah palsu, walaupun hanya 5 menit, walaupun 10 menit, walaupun 30 menit atau 1 jam, saya titip satu kalimat. Yaitu, dalang dari permasalahan ijazah palsu adalah Jokowi sendiri,” beber Eko.

"Jadi saya ulangi, dalang dari permasalahan ijazah palsu adalah Jokowi sendiri,” pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya