Berita

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: Istimewa)

Publika

Ironi Nasionalisme yang Membunuh Anak Kandungnya Sendiri

SABTU, 16 MEI 2026 | 00:15 WIB

ADA sesuatu yang mulai terasa ganjil dalam arah hilirisasi nikel Indonesia hari ini. 

Di depan publik, pemerintah bicara tentang nasionalisme, tentang kedaulatan sumber daya alam, tentang bagaimana Indonesia tidak boleh lagi dijajah asing melalui ekspor bahan mentah.

Tetapi ketika ada perusahaan nasional murni yang benar-benar mencoba membangun smelter dengan darah, keringat, dan modal anak bangsa sendiri, negara justru tampak dingin.


Nama yang hari ini paling layak dimintai jawaban atas paradoks itu adalah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Karena di tangan Bahlil, hilirisasi berubah menjadi panggung besar nasionalisme industri.

Namun di saat bersamaan, keresahan mulai menjalar pelan di kawasan-kawasan lingkar tambang. Bukan keresahan elite. Tetapi keresahan rakyat biasa.

Pedagang kecil mulai mengeluh omzet turun, kontraktor lokal mulai kehilangan ritme kerja, sopir hauling mulai takut kendaraan mereka berhenti beroperasi, warung-warung mulai sepi, dan masyarakat mulai bertanya: kalau industri melambat, kami harus makan apa?

Di Morowali Utara, pelambatan industri smelter mulai berdampak nyata terhadap ekonomi masyarakat lingkar tambang. Sejumlah kios dilaporkan terancam tutup akibat stagnasi aktivitas kontraktor tambang dan gejolak PHK pekerja kontrak.

Di Kolaka, Sulawesi Tenggara, ratusan masyarakat adat bahkan turun melakukan aksi menuntut aktivitas tambang kembali berjalan karena ekonomi warga ikut lumpuh saat operasi berhenti.

Sementara di berbagai wilayah industri nikel, tren PHK mulai menghantui. Empat smelter besar di Sulawesi dilaporkan menghentikan sebagian lini produksi akibat tekanan harga nikel dan lemahnya permintaan global. 

Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia bahkan menghentikan operasional dan merumahkan pekerja tanpa kepastian waktu.

Di Kabaena, Bombana, lebih dari 800 pekerja terkena PHK setelah penghentian operasi tambang.

Sekarang pemerintah justru bicara tentang pemangkasan produksi nasional demi menjaga harga global.

Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah benar-benar menghitung dampak sosial dari kebijakan ini?

Di Jakarta, pengurangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) mungkin hanya terlihat sebagai angka statistik. 

Tetapi di lingkar tambang, itu berarti: cicilan motor terancam macet, anak sekolah bisa berhenti kuliah,rumah makan kehilangan pelanggan, dan ekonomi desa bisa lumpuh perlahan.

Inilah yang sering tidak terlihat dalam pidato-pidato nasionalisme.
Bahwa industri nikel hari ini bukan sekadar soal hilirisasi dan devisa negara.

Ia sudah menjadi denyut hidup masyarakat kawasan tambang.

Ironisnya, di tengah badai itu, perusahaan nasional murni justru terlihat paling rapuh. 

Ceria Group, melalui proyek Smelter Merah Putih di Kolaka adalah contoh nyata Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencoba berdiri di tengah dominasi modal asing. 

Statusnya bukan hanya merupakan PMDN, PSN, tetapi juga sekaligus Objek Vital Nasional.

Justru karena itulah publik mulai mempertanyakan: mengapa negara tidak terlihat lebih agresif melindungi industri nasionalnya sendiri?

Semua orang tahu: perusahaan asing punya bantalan modal global.
Mereka punya akses bank internasional. Mereka punya supply chain lintas negara. Mereka punya daya tahan panjang.

Tetapi PMDN seperti Ceria? Mereka bertarung sambil menjaga napas. Siapa yang berkewajiban membantunya kecuali negara? Di sinilah luka itu mulai terasa dalam.

Negara begitu keras bicara tentang kedaulatan ekonomi, tetapi ketika ada industri nasional yang benar-benar mencoba membangun “Smelter Merah Putih”, dukungan nyata terasa tidak sebanding dengan risiko yang mereka tanggung.

Nasionalisme akhirnya terdengar seperti slogan yang kehilangan keberpihakan. Padahal, nasionalisme sejati itu bukan sekadar melarang ekspor mentah.

Nasionalisme sejati adalah memastikan anak bangsa tidak tumbang lebih dulu di rumahnya sendiri.

Sebab kalau perusahaan nasional mulai melemah, lalu masyarakat lingkar tambang mulai resah, sementara pemain asing tetap bertahan dengan kekuatan modalnya, maka sejarah akan mencatat ironi paling pahit dalam hilirisasi Indonesia.

Negara terlalu sibuk meneriakkan Merah Putih, tetapi gagal menjaga rakyat dan industri nasional yang benar-benar sedang memikulnya. Gagal menjaga Merah Putihnya sendiri.

Ihwan Kadir
Pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL)

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Indonesia Siap Fasilitasi Dialog Junta dan Kelompok Etnis Myanmar

Kamis, 16 Juli 2026 | 14:07

Status Tersangka Febrie Adriansyah Sempat Diralat, Yusril Harap Kejagung On The Track

Kamis, 16 Juli 2026 | 14:05

Kemlu Pastikan Penutupan Bandara di Arab Saudi Tak Berdampak pada Jemaah Umrah Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:51

Prabowo Resmikan Groundbreaking PSN LNG Abadi Masela dari Istana

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:47

Kemlu Ungkap Kondisi Terkini WNI Usai AS Kembali Menyerang Iran

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:45

Pemerintah Siapkan Pajak 0 Persen hingga 50 Tahun untuk Pengusaha

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:43

Menko PM Dorong USG Jadi Pusat Lahirnya SDM Unggul Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:23

Imparsial Desak Perpres Nomor 66/2025 Dicabut

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:23

Mendagri Pilih Bungkam soal Fenomena Sekolah Sepi Murid

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:22

Lionel Messi Bawa Argentina ke Final Piala Dunia 2026

Kamis, 16 Juli 2026 | 13:14

Selengkapnya