Berita

Ilustrasi filusuf Socrates. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Pendidikan Nalar Socrates

JUMAT, 15 MEI 2026 | 19:17 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

DEMAM gelar! Latar akademik berderet panjang sebagai simbol status dan kehormatan. Di balik euforia ijazah dan predikat cum laude, tersimpan ironi deflasi kompetensi, di mana lulusan perguruan tinggi sering gagap dunia praktikal.

Fenomena yang menjadi gejala problem kronis dalam sistem pendidikan, hilangnya rasa ingin tahu di era skor. Kita telah lama meninggalkan pertanyaan mengapa, dan menggantinya dengan berapa skornya?

Pendidikan yang seharusnya menjadi proses pembebasan jiwa, terjebak menjadi pabrik ijazah pelayan logika pasar (Adiyasa & Lindawati, 2025).


Socrates mengajarkan, guru seharusnya bertindak sebagai bidan intelektual atau maieutika. Tugas pendidik bukan menyuapi jawaban, melainkan membantu melahirkan kebenaran dari dalam diri siswa melalui tanya-jawab kritis (Lay et al., 2025).

Lebih jauh Socrates percaya, bahwa pengetahuan sejati lahir dari dialektika, proses membongkar asumsi untuk menemukan definisi yang lebih mendalam (Anshari, 2024).

Dalam ruang kelas, roh Socrates telah lama menguap. Sistem pendidikan sangat terstandarisasi, memaksa siswa menjadi penerima informasi pasif.  Di mana peserta didik menjadi mesin penghafal pola soal, agar bisa menembus ambang batas kelulusan (Hidayah & Fitriani, 2021).

Ketika nalar kritis digantikan hafalan mekanis, kemampuan analisis siswa tumpul. Boleh jadi pintar dalam menjawab soal, tetapi gagal bertanya tentang esensi di balik jawaban tersebut.

Ironi Ijazah Tanpa Skill

Krisis ini tecermin jelas, dalam fenomena ijazah tanpa skill. Data menunjukkan, bahwa ijazah berfungsi sebagai kredensial, atau alat penyaring administratif ketimbang bukti produktivitas riil (Khoiruddin dkk., 2024). Terjadi inflasi akademik, masyarakat haus gelar, tetapi isi kepala sering tidak sejalan dengan label yang disandang (Rudi, 2025).

Statistik berbicara dengan nada muram. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran lulusan universitas meningkat hingga 12,12% pada 2024. Padahal, survei mencatat 87% lulusan perguruan tinggi merasa tidak siap memasuki dunia kerja.

Kesenjangan ini terjadi, karena pendidikan terlalu fokus pada penguasaan konten yang padat, tanpa melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) seperti analisis dan evaluasi (OECD, 2022).

Potret Buram Literasi

Indikator pengetahuan nasional, memberikan konfirmasi lebih pahit. Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia turun hingga 19 poin, dibandingkan satu dekade lalu. Mayoritas hanya mampu mengenali fakta sederhana, hampir nol persen pada Level 5 atau 6 -tingkat dimana mampu mengevaluasi strategi pemecahan masalah kompleks.

Di sisi lain, meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2025 mencapai angka 75,90 yang tergolong tinggi, kualitas isi dari angka tersebut perlu dipertanyakan.

Harapan lama sekolah memang meningkat, tetapi rerata lama sekolah penduduk usia produktif tertahan di 9,07. Hal ini berarti, perluasan akses pendidikan sering mengabaikan kedalaman kualitas.

Orientasi Makna

Matinya rasa ingin tahu, alarm bagi masa depan. Jika pendidikan diukur dari angka di atas kertas, akan memproduksi generasi patuh yang efisien, miskin inovasi. Pendidikan harus ke khitah sebagai laboratorium etika dan intelektual, bukan investasi ekonomi (Adiyasa & Lindawati, 2025).

Dibutuhkan banyak bidan intelektual di ruang kelas, yang mengajak siswa bertanya mengapa. Sistem penilaian perlu menghargai proses dialektika, bukan sekadar skor akhir. Tanpa keberanian merombak pemujaan terhadap skor, ijazah tetap menjadi selembar kertas tanpa makna.

Pada akhirnya, kualitas bangsa tidak ditentukan banyak gelar yang dimiliki, melainkan ketajaman nalar dalam mempertanyakan keadilan dan kebenaran di sekitarnya.

Penulis Sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya