Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Minyak Sawit Rebound, Tapi Masih Dibayangi Tren Negatif Mingguan

JUMAT, 15 MEI 2026 | 13:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga kontrak berjangka minyak sawit Malaysia akhirnya berhasil bangkit ke atas 4.400 Ringgit Malaysia per ton, sekaligus memutus rantai pelemahan yang terjadi sejak awal Mei. 

Sayangnya, aksi rebound ini belum cukup kuat untuk menyelamatkan sawit dari zona merah, di mana komoditas ini tetap berada di jalur penurunan mingguan ketiga berturut-turut dengan koreksi sekitar 1,7 persen.

Kebangkitan harga saat ini disokong oleh pelemahan mata uang ringgit yang membuat sawit Malaysia menjadi lebih murah bagi pembeli global. Kondisi ini diperkuat oleh penguatan harga minyak kedelai di bursa Chicago serta lonjakan tajam harga minyak mentah akibat kecemasan pasar terhadap konflik geopolitik di Selat Hormuz. 


Di sisi lain, pelaku pasar juga menaruh harapan besar pada pertemuan hari kedua antara Presiden AS dan China di Beijing yang diharapkan mampu meredakan ketegangan dagang global.

Namun, laju penguatan sawit tertahan akibat lesunya permintaan dari India sebagai konsumen terbesar dunia. 

Impor sawit negara tersebut anjlok 26 persen pada bulan April ke level terendah dalam empat bulan terakhir akibat melambatnya pembelian institusi dan menyempitnya selisih harga antara sawit dengan minyak nabati pesaingnya. 

Kebimbangan pasar semakin diperparah oleh data ekspor awal Mei yang saling bertolak belakang, di mana AmSpec Agri melaporkan penurunan pengiriman 10,8 persen, sementara Intertek justru mencatat pertumbuhan sebesar 8,5 persen.

Secara historis, daya tarik utama minyak kelapa sawit bagi pasar negara berkembang seperti India adalah harganya yang jauh lebih ekonomis. Ketika selisih harga antara sawit dengan minyak kedelai atau minyak bunga matahari menipis seperti sekarang, para pelaku industri di India dengan cepat beralih ke minyak alternatif, yang langsung memukul angka impor sawit secara drastis.

Selain masalah harga, pasar saat ini sedang memasuki fase dilematis terkait pasokan. Memasuki kuartal kedua, siklus produksi kelapa sawit di Asia Tenggara biasanya mulai bergerak naik menuju puncaknya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Kejagung Periksa 6 Saksi Kasus Korupsi BGN

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:12

Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, Harus Dicegah dan Diusut

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:00

Bung Karno Sang Orator

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:38

Tangis Megawati Pecah saat Wajah Bung Karno Muncul di Langit Gelora Bung Tomo

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:20

Jangan Takut, tapi Tetap Waspada soal Isu Rusuh Agustus Jilid II

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:07

15 Saksi Dugaan Penyalahgunaan Pelimpahan Nomor Porsi Haji 2026 Diperiksa

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:33

Tim Hukum Hukum Ungkap 30 Pelanggaran Penanganan Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:20

DSI Resmi Beroperasi, Ini Jajaran Direksi dan Komisarisnya

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:02

Soekarno Cup 2026 Libatkan 400 Talenta Muda

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:31

Mustahil Sjafrie Larang Mahasiswi Unhan Berjilbab

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya