Berita

Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada Sabtu 9 Mei 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

LCC Diulang Jadi Kemenangan Netizen

KAMIS, 14 MEI 2026 | 12:55 WIB

TERUS terang saya lega. Lega seperti habis memenangkan perang besar. Bukan perang pakai tank, rudal, atau pasukan elite. Ini perang pakai jempol, komentar nyinyir, share brutal, dan rasa sakit hati kolektif rakyat internet. 

Tiga hari lamanya lini masa berubah jadi medan tempur. Tidak ada sirene perang, yang ada notifikasi tanpa henti. 

Tidak ada pasukan infanteri, yang ada emak-emak, mahasiswa, alumni, bapak-bapak pengangguran digital, hingga netizen yang biasanya cuma komentar “pertama gan”. Semua mendadak jadi tentara algoritma.


Kasusnya sederhana tapi bikin darah mendidih. Di ajang LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar, SMAN 1 Pontianak merasa dirugikan. Yang benar malah dikasih minus lima. 

Di negeri ini ternyata bukan cuma rakyat yang bisa dikurangi nilainya, jawaban benar pun bisa dipreteli seperti anggaran rakyat jelata. 

Lalu muncul dalih artikulasi. Seolah-olah dosa terbesar peserta didik Indonesia bukan salah jawaban, melainkan kurang fasih menggetarkan huruf “R”. Sementara sang MC dengan santainya mengatakan itu cuma perasaan Regu C SMAN 1 Pontianak. 

Lewat tulisan saya luncurkan (termasuk akun lain), kemarahan netizen bangkit. Kurang lebih enam artikel saya diterbitkan untuk “menelanjangi” kesalahan fatal itu. 

Kata “menelanjangi” di sini bukan harfiah. Tenang saja. Artikel demi artikel menyebar seperti api di padang ilalang kering. Dibaca. Dikomentari. Dishare. Di-like. Difypkan. 

Orang-orang yang sebelumnya tidak tahu apa itu LCC Empat Pilar mendadak ikut marah seperti baru ditipu calo tanah. Di situlah keajaiban demokrasi digital bekerja.

Banyak pejabat masih mengira komentar netizen hanyalah suara tongkrongan online. Padahal komentar adalah peluru algoritma. 

Satu komentar mungkin tampak receh. Tapi ribuan komentar? Itu sudah seperti hujan meteor menghantam sistem distribusi platform. 

Algoritma media sosial modern tidak peduli kamu anak pejabat atau admin grup jual beli galon. Yang dia lihat adalah engagement. Begitu orang ramai berkomentar, algoritma berpikir, “Wah, ini konten bikin manusia emosional. Dorong lebih luas!”

Begitulah cara perang ini dimenangkan.

Konten awalnya hanya dilempar ke audiens kecil. Ratusan view. Lalu algoritma mulai mengukur. 

Berapa lama orang menonton? Apakah mereka membaca sampai habis? Apakah mereka marah lalu mengetik komentar sepanjang surat wasiat? Apakah mereka membagikannya ke grup keluarga sambil berkata, “Nih lihat, kacau betul”? 

Ketika sinyal itu tinggi, algoritma bekerja seperti tukang gosip kompleks. Dia menyebarkan cerita ke mana-mana.

Watch time tinggi. Share tinggi. Komentar meledak. Orang rewatch. Orang debat. Orang ngamuk. 

Platform digital menyukai keributan seperti itu. Karena semakin emosional manusia, semakin lama mereka bertahan di aplikasi. 

Itulah mengapa komentar “MPR lembaga tak becus” dan komentar nyablak lainnya ternyata punya tenaga lebih besar dari pidato formal berlembar-lembar.

Akhirnya suara itu sampai juga ke telinga para petinggi. Jangan lupa, MPR itu lembaga tinggi negara. Isinya 732 orang. Ada 580 anggota DPR dan 152 anggota DPD. 

Jumlahnya sudah seperti satu batalion plus rombongan ormas ke kondangan. Tapi, lembaga sebesar itu tetap bisa bergetar ketika netizen bergerak serempak. Ini pelajaran penting. 

Di era digital, rakyat kecil yang bersatu bisa menciptakan tekanan luar biasa tanpa perlu membakar ban atau menduduki gedung. Cukup kuota internet dan rasa kesal nasional.

LCC akhirnya diputuskan untuk diulang.

Di situlah kemenangan itu terasa. Bukan sekadar soal lomba. Ini tentang pesan, publik masih punya daya tekan. 

Ketika ketidakadilan dipertontonkan terlalu terang-terangan, internet bisa berubah menjadi pengadilan raksasa. 

Kadang memang liar, kadang brutal, kadang penuh typo dan meme absurd. Tapi jangan remehkan kekuatan orang-orang yang sedang merasa dizalimi bersama-sama.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pembaca. Kalian bukan sekadar penonton. 

Kalian bagian dari kemenangan netizen. Kalian ikut bertempur di medan perang paling modern abad ini, kolom komentar. Kapan-kapan kira rayakan kemenangan ini dengan seruput Koptagul, wak!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya