Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Inflasi Meroket, Warga AS Tercekik Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

RABU, 13 MEI 2026 | 11:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Inflasi di Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada April 2026 dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, terutama dipicu lonjakan harga energi akibat perang Iran yang mengganggu pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat.

Dikutip dari CNBC International, Rabu 13 Mei 2026, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis Selasa, indeks harga konsumen (CPI) naik 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi Maret yang berada di level 3,3 persen. 

Kondisi ini memberikan gambaran semakin beratnya tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga Amerika sejak konflik di Timur Tengah berlangsung lebih dari satu bulan.


Kepala ekonom Moody’s, Mark Zandi, mengatakan masyarakat masih akan menghadapi tekanan dalam waktu dekat.

“Rumah tangga Amerika akan terus berjuang untuk mengatasi hal ini, dan itu akan terus terjadi dalam waktu dekat,” kata Zandi.

Kenaikan inflasi dipicu lonjakan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Iran sendiri masih membatasi distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Profesor ekonomi Boston College, Brian Bethune, menggambarkan Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi ekonomi global.

“Ini seperti arteri aorta di tubuh Anda. Ketika itu terhambat, seluruh ekonomi global akan terpengaruh," ujarnya.

Harga minyak mentah Brent yang sebelum konflik berada di kisaran 70 Dolar AS per barel melonjak menjadi 118 Dolar AS per barel pada akhir April dan masih bertahan di atas 107 Dolar AS per barel hingga Selasa pagi.

Kenaikan harga minyak kemudian berdampak langsung pada berbagai kebutuhan masyarakat. Harga bensin di AS naik sekitar 50 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari dan melonjak 28,4 persen dibandingkan tahun lalu. 

Data AAA menunjukkan rata-rata harga bensin nasional kini mencapai 4,50 Dolar AS per galon, jauh lebih tinggi dibanding sekitar 3,14 Dolar AS per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan harga energi juga memicu kenaikan harga tiket pesawat. Data CPI menunjukkan tarif penerbangan naik 20,7 persen dalam setahun terakhir akibat mahalnya bahan bakar jet.

Analis keuangan Bankrate, Stephen Kates, menilai masyarakat kini menghadapi tekanan ganda.

“Konsumen saat ini terjebak dalam tekanan ganda, menghadapi lonjakan harga bensin sekaligus kenaikan berbagai kebutuhan pokok lainnya," ujarnya.

Dampak perang juga mulai terasa pada harga pangan. Menurut Bethune, kenaikan harga solar meningkatkan biaya distribusi makanan ke toko-toko bahan pangan. Selain itu, pupuk yang banyak melewati Selat Hormuz ikut terdampak sehingga biaya produksi pertanian meningkat.

Data CPI menunjukkan harga makanan naik 3,2 persen dalam setahun terakhir, sementara harga daging sapi melonjak hingga 14,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan inflasi terbaru juga memperkuat perkiraan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Stephen Kates menilai The Fed berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi inflasi yang kembali mendekati 4 persen.

“Tren inflasi tidak akan langsung berbalik, bahkan jika ketegangan geopolitik mereda, sehingga sangat kecil kemungkinan kita akan melihat penurunan suku bunga tahun ini," demikian Kates.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya