Berita

Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal (Foto: Dokumen Pribadi)

Bisnis

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

RABU, 13 MEI 2026 | 10:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan MSCI Inc. menghapus enam saham unggulan Indonesia dari MSCI Global Standard Index dinilai akan memberi tekanan psikologis terhadap pasar modal domestik dalam jangka pendek.

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, mengatakan pencoretan sejumlah saham besar tersebut memang berpotensi memicu aliran dana keluar dari investor asing maupun passive fund global yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

“Iya, hari ini ada pengumuman keputusan MSCI mencoret beberapa saham. Yang sebelumnya kami prediksi itu AMMN, DSSA, dan CUAN. Tapi kalau Antam memang cukup mengejutkan karena sebelumnya tidak terlalu diperkirakan,” kata Reydi, saat dihubungi RMOL Rabu, 13 Mei 2026.


Menurut Reydi, secara keseluruhan keputusan MSCI tersebut dapat menekan sentimen pasar dalam beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan. Namun, ia menilai kondisi itu sebenarnya sudah mulai diantisipasi pelaku pasar sejak awal.

“Kalau secara keseluruhan memang bisa memberi tekanan psikologis ke pasar. Karena mungkin ada outflow dari investor asing dan passive fund besar. Tapi sebenarnya pasar sudah mulai mengantisipasi isu ini sejak awal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perhatian MSCI selama ini tertuju pada persoalan free float, likuiditas perdagangan saham, serta high shareholding concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi pada sejumlah emiten besar di Indonesia.

“Isu free float, likuiditas, dan evaluasi HSC memang sudah lama jadi perhatian MSCI. Jadi investor sebenarnya sudah cukup siap kalau akhirnya ada saham-saham besar yang masuk kategori deletion,” jelasnya.

Dalam pengumuman MSCI Indonesia Index terbaru yang dikutip dari situs resmi MSCI pada Rabu, 13 Mei 2026, MSCI  resmi menghapus enam saham berkapitalisasi besar asal Indonesia dalam evaluasi Mei 2026 tanpa memasukkan emiten baru sebagai pengganti. 

Sejumlah saham yang terdepak berasal dari sektor energi, mineral, hingga hilirisasi yang selama ini menjadi penopang utama pasar modal domestik.

Reydi pun mengingatkan investor agar tidak bereaksi berlebihan terhadap efek rebalancing MSCI karena tekanan yang muncul umumnya bersifat sementara.

“Saran saya investor tidak perlu panik karena efek rebalancing MSCI biasanya sifatnya jangka pendek. Tekanan utamanya hanya dari keluarnya likuiditas dana pasif dan uang besar,” tuturnya.

Ia menilai investor tetap dapat menemukan peluang di pasar selama lebih selektif memilih saham, terutama menghindari emiten yang memiliki persoalan likuiditas rendah, free float kecil, dan masuk radar pengawasan MSCI.

“Selama menghindari saham yang punya isu likuiditas, free float, dan HSC yang jadi red flag MSCI, seharusnya masih aman. Karena masih banyak saham fundamental bagus, earning stabil, dan valuasinya sekarang justru murah,” pungkas Reydi.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya