Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Harga minyak dunia naik hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan upaya gencatan senjata dengan Iran berada dalam “kondisi kritis.”
Dikutip dari Reuters, Selasa 12 Mei 2026, pada penutupan perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent ditutup naik 2,88 persen ke level 104,21 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,78 persen menjadi 98,07 Dolar AS per barel.
Selama perdagangan, Brent sempat menyentuh 105,99 Dolar AS per barel dan WTI mencapai 100,37 Dolar AS per barel.
Kenaikan harga ini terjadi setelah pasar sebelumnya sempat optimistis perang akan mereda. Pekan lalu, harga minyak turun sekitar 6 persen karena muncul harapan konflik yang telah berlangsung sekitar 10 minggu itu segera berakhir dan jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali normal.
Namun situasi berubah setelah Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS. Ia menyebut respons Teheran sebagai “bodoh” dan “sama sekali tidak dapat diterima.”
Iran sebelumnya mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian perang di semua front, pencabutan sanksi, jaminan tidak ada serangan lanjutan, hingga penghentian blokade laut oleh AS. Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta meminta larangan penjualan minyak Iran dicabut.
Menurut Florence Schmit, analis energi dari Rabobank, arah situasi kini kembali berubah menjadi eskalasi konflik.
“Narasi berubah lagi dari de-eskalasi menjadi eskalasi hanya dalam beberapa hari dan pasar minyak meresponsnya,” kata Schmit.
Ketegangan ini membuat jalur penting ekspor minyak dunia di Selat Hormuz masih terganggu. Reuters melaporkan ada tiga kapal tanker minyak yang keluar dari selat tersebut dengan sistem pelacak dimatikan, menandakan tingginya risiko keamanan di kawasan itu.
Di sisi lain, Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini. Konflik Iran disebut akan menjadi salah satu topik utama pembahasan kedua pemimpin.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat gangguan pasokan. Menurutnya, pasar energi membutuhkan waktu lama untuk kembali stabil meski pengiriman minyak nantinya kembali normal.
Produksi minyak negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries juga dilaporkan turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade pada April 2026. Penurunan terjadi karena terganggunya ekspor akibat konflik di Selat Hormuz. Survei menunjukkan produksi OPEC turun 830 ribu barel per hari menjadi sekitar 20,04 juta barel per hari pada April.
Sementara analis JPMorgan Chase memperkirakan harga minyak masih akan bertahan di kisaran 100 Dolar AS per barel hingga akhir tahun. Mereka memperkirakan rata-rata harga minyak tahun 2026 berada di sekitar 97 Dolar AS per barel karena normalisasi pasokan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat meski Selat Hormuz kembali dibuka.