Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Membatasi Dominasi Negara

MINGGU, 10 MEI 2026 | 23:20 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

SUTAN Sjahrir menyimpulkan, ada tiga pilar yang mendukung sistem penjajahan Belanda. Pertama, polisi. Kedua, tentara. Dan ketiga, adalah Digoel. Ini memberikan renungan betapa represi yang dilakukan oleh orde-orde sesudahnya terhadap gerakan Pro-Demokrasi yang tak jauh berbeda.

Kita jadi gampang mengulangi kesalahan sejarah, hal mana disebabkan tidak adanya "institusional memory", istilah Daniel S Lev.

Dari pengalaman yang kita alami bahwa setiap generasi ke generasi berikutnya tidak pernah ada kesinambungan. Tidak ada yang menyimpan memori. Tidak ada yang melembagakan pemahaman sejarah. Semua hal itu adalah ancaman terhadap proses penguatan demokrasi.


Membangun Republik

Kuncinya adalah pada "kontrol". Sebagai sebuah Negara Modern, maka dalam demokrasi semua orang turut serta dalam mengambil keputusan.  

Republik adalah sebuah lembaga, sebab itu sebagai pemerintah sebagai lembaga harus dapat dikontrol masyarakat, keduanya adalah sebuah kumpulan. Republik adalah pilihan kita bersama sejak 1945.

Di setiap lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat ada elit artinya memiliki kepentingan masing-masing. Keduanya harus saling mengontrol. APBN juga harus dikontrol ketat dan transparan.

Saat ini negara  memainkan peran lebih besar dibandingkan lembaga masyarakat. Karena itu sebaiknya peranan lembaga Masyarakat harus segera di galakkan. Ketimpangan dan jurang yang melebar ini seyogyanya dapat diatasi.

Reformasi Institusi Stagnan

Tahun 1998, seorang pakar sosiolog, Selo Sumardjan, menghimbau agar kita semua menjaga jangan seperti dikatakan orang Belanda: Het volk is redeloos, de regering is radeloos, het land is reddeloos. (Rakyat kehilangan daya pikir sehat, pemerintah kehilangan akal, negara kehilangan harapan).

Demikian juga, Ignas Kleden seorang sosiolog, kritikus sastra, dan cendekiawan Indonesia yang memberikan pemikiran kritis terhadap gerakan Reformasi 1998. 

Ia menekankan perlunya reformasi institusi ekonomi-politik yang inklusif, serta mengkritik formalisme demokrasi dan stagnasi perubahan, mendorong reformasi budaya dan keilmuan yang lebih substansial.

Ignas berpendapat bahwa reformasi sejati membutuhkan pembangunan institusi ekonomi dan politik yang inklusif secara bersamaan, karena pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada watak institusi politik.

Pada refleksi 20 tahun Reformasi (2018), ia menyoroti bahwa demokrasi masih terjebak pada formalisme dan belum terwujud dengan benar. Reformasi cenderung stagnan sebelum mencapai tujuannya, menyebabkan ketidakjelasan arah.

Pada awal 1998, ia menyoroti perdebatan penting bahwa reformasi sistem politik harus dibarengi dengan pembaruan budaya politik, bukan hanya sekadar pergantian tokoh atau struktur.

Ignas menekankan pentingnya mereformasi pendidikan untuk mendorong sikap kritis, kreatif, dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat penemuan baru, bukan sekadar transfer pengetahuan.

Ia mengemukakan bahwa tidak ada perubahan berarti dalam kondisi politik Indonesia sebelum dan sesudah reformasi.

Masyarakat versus Negara


Majalah Time, Oktober 2012, berjudul 5 Ideas that are changing the world (for better), mengutip Bill Clinton. Ada 3 tantangan dunia, inequality, instability, dan unsustainability.

Kita di Indonesia menghadapi ketiga tantangan dunia di atas. Ditambah akibat perang adanya krisis ekonomi global, saat ini diperlukan kepemimpinan nasional yang jelas arahnya.

Perkembangan di atas membutuhkan jawaban konkrit untuk mengatasi persoalan justice, equality, technology, economy, health.

Reformasi 1998 telah berjalan hampir tiga dasawarsa, nyatanya masih tetap stagnan, berjalan di tempat. Sudah saatnya membangun institusi negara yang kuat dan institusi masyarakat yang kuat.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya