Berita

Gedung Bank Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

BI Pasang Strategi Penuh Hadapi Tekanan Rupiah

JUMAT, 08 MEI 2026 | 08:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pihaknya sedang berupaya keras melindungi nilai tukar Rupiah dari ketidakpastian ekonomi dunia. 

Sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, BI menjalankan tujuh strategi khusus secara maksimal.

“Ini bukan bisnis biasa. Tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out (habis-habisan)!” ujar Perry di Jakarta, Kamis 7 Mei 2026.


BI melakukan intervensi atau "campur tangan" di pasar uang untuk menahan kejatuhan Rupiah. Langkah ini dilakukan di dalam negeri maupun di pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York selama 24 jam penuh.

Akibat aksi ini, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar Dolar AS pada Maret 2026. Namun, Perry meminta masyarakat tidak khawatir karena jumlah tersebut masih sangat aman.

“Cadangan devisa memang turun, tapi itu lebih dari cukup. Ibaratnya, kita kumpulkan tabungan saat sedang untung, lalu kita gunakan saat sedang sulit seperti sekarang,” jelasnya.

Untuk menyeimbangkan dana asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi, BI menggunakan instrumen bernama SRBI. Sejauh ini, SRBI berhasil menarik dana masuk sebesar Rp78,1 triliun, yang membantu menambal kekosongan modal di dalam negeri.

Meski sempat menyentuh level Rp17.400-an, Perry menilai harga Rupiah saat ini masih terlalu murah dibandingkan kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya masih kuat. Pertumbuhan ekonomi kita tercatat stabil di angka 5,61 persen dan inflasi tetap rendah.

Pelemahan Rupiah saat ini disebabkan oleh dua hal utama yaitu masalah global dan factor musiman. 

Masalah global mencakup kenaikan harga minyak dunia, perang di Timur Tengah, dan suku bunga di Amerika Serikat yang masih sangat tinggi.

Sedangkan masalah musiman, adalah banyaknya kebutuhan Dolar di bulan April-Mei untuk biaya haji, pembayaran utang luar negeri perusahaan, dan pembagian keuntungan (dividen) kepada investor asing.

“Kondisinya memang sedang menantang. Tapi BI akan habis-habisan menjaga rRupiah dengan dukungan penuh dari Presiden,” tutup Perry.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya