Berita

Dapur MBG. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Politik

Kader Posyandu Didorong Ambil Peran Strategis dalam Program MBG

SELASA, 05 MEI 2026 | 15:06 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam isu gizi dasar, kesehatan ibu dan anak, serta pengentasan stunting di tingkat akar rumput.

Hal ini disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, saat menyerap aspirasi kader Posyandu Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, dalam kegiatan reses Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026. 

Ateng menjelaskan, sejak awal, sistem kesehatan masyarakat Indonesia dibangun di atas fondasi pemberdayaan komunitas, yang diwujudkan melalui Posyandu. Kader Posyandu telah menjadi aktor kunci dalam deteksi dini, edukasi gizi keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara langsung.


“Kader Posyandu bukan sekadar perpanjangan tangan pemerintah, tetapi entitas sosial yang memahami secara detail kondisi masyarakat di wilayahnya,” ujarnya, Selasa, 5 Mei 2026.

Namun demikian, kebijakan nasional di bidang gizi mengalami perubahan seiring hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN). 
Program ini menargetkan puluhan juta penerima manfaat, mulai dari peserta didik hingga ibu hamil dan balita, melalui skema distribusi pangan dapur umum terpadu. Perubahan tersebut berpotensi menimbulkan tantangan baru, terutama terkait posisi dan peran kader Posyandu.

“Kita harus memastikan bahwa transformasi kebijakan ini tidak justru menggeser peran strategis kader Posyandu yang selama ini sudah terbukti efektif,” tegasnya.

Ia mengingatkan adanya potensi tumpang tindih program, fragmentasi data penerima manfaat, serta risiko ketidaksesuaian menu makanan dengan kebutuhan spesifik balita jika tidak dirancang secara terintegrasi dengan sistem yang sudah ada.

Secara sosiologis, kader Posyandu memiliki kedekatan dengan masyarakat. Mayoritas kader merupakan perempuan yang telah mengabdi dengan dedikasi yang tinggi, meskipun tidak didukung insentif yang memadai. Menurutnya, kekuatan Posyandu terletak pada modal sosial yang tidak dimiliki oleh sistem birokrasi yang bersifat sentralistik.

“Ini adalah kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh sistem yang sepenuhnya terpusat,” jelasnya.

Dalam praktiknya, kader Posyandu menjalankan fungsi yang sangat penting, seperti pengukuran antropometri, pemantauan pertumbuhan melalui Kartu Menuju Sehat (KMS), hingga edukasi pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai dengan kebutuhan usia anak.

Ia mengingatkan adanya risiko di lapangan apabila distribusi makanan dalam program MBG tidak mempertimbangkan aspek spesifik kebutuhan balita, terutama terkait tekstur dan komposisi makanan.

“Pemberian makanan untuk balita tidak bisa disamaratakan dengan anak usia sekolah. Ada standar yang harus dijaga agar tidak menimbulkan masalah baru,” ungkapnya.

Ia mendorong agar program MBG tidak berjalan secara parsial, melainkan terintegrasi dengan ekosistem layanan kesehatan yang telah ada, khususnya Posyandu. Kader Posyandu harus ditempatkan sebagai bagian strategis dalam rantai pelaksanaan program tersebut. 

Kader Posyandu juga dapat berperan sebagai validator data penerima manfaat, pengawas kualitas, serta mitra operasional dalam pelaksanaan program.

Ia mengajukan sejumlah rekomendasi, antara lain penguatan koordinasi lintas sektor, integrasi distribusi pangan berbasis Posyandu, peningkatan kapasitas kader dalam monitoring gizi, serta pemberdayaan kader sebagai bagian dari ekosistem ekonomi lokal dalam operasional dapur MBG.

Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan perlu mengedepankan pendekatan kolaboratif yang menggabungkan kekuatan sistem logistik nasional dengan modal sosial yang telah terbangun di masyarakat.

“Maka kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem ketahanan gizi yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.




Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya