Kebersamaan Presiden Prabowo Subianto dan Rocky Gerung. (Foto: ANTARA)
Reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 27 April 2026 masih menyisakan perhatian publik.
Pengamat politik Adi Prayitno membagi reshuffle tersebut ke dalam tiga kategori utama, yakni wajah baru, pergeseran posisi, dan kembalinya tokoh lama ke pemerintahan.
“Pertama kategori wajah baru, misalnya Pak Jumhur Hidayat yang merupakan aktivis buruh menjadi Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif Faisol,” ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Rabu, 29 April 2026.
Dalam kategori kedua, yakni perpindahan posisi, Adi mencontohkan Hanif yang sebelumnya menjabat Menteri Lingkungan Hidup kini bergeser menjadi Wakil Menteri Koordinator Pangan.
Selain itu, Muhammad Qodari juga mengalami reposisi dari Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) menjadi Kepala Badan Komunikasi sekaligus jurubicara Istana.
Sementara kategori ketiga adalah kembalinya tokoh lama ke lingkar kekuasaan. Adi menyebut nama Hasan Nasbi yang kini dipercaya sebagai staf khusus presiden di bidang komunikasi, serta Abdul Karding yang kembali masuk pemerintahan untuk mengurusi bidang karantina.
Meski demikian, Adi menilai reshuffle kali ini tidak terlalu menghebohkan dibandingkan perombakan kabinet sebelumnya, terutama pasca Agustus 2025 yang melibatkan sejumlah nama besar seperti Sri Mulyani dan Erick Thohir.
Direktur Parameter Politik Indonesia itu juga menyinggung reshuffle yang melibatkan Budi Arie Setiadi, yang dinilai memiliki kedekatan politik dengan Joko Widodo.
“Jadi reshuffle kemarin tidak seheboh sebelumnya. Justru yang ramai adalah pertemuan Prabowo dengan Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan, termasuk juga pertemuan Seskab Teddy dengan Rocky,” jelasnya.
Menurut Adi, sosok Rocky yang selama ini dikenal keras mengkritik pemerintah justru menarik perhatian publik. Kehadirannya dalam pertemuan tersebut dinilai lebih menyita perhatian dibandingkan pelantikan pejabat hasil reshuffle.
Adi menambahkan, kedekatan Rocky dengan Prabowo sebenarnya bukan hal baru, terutama sejak Pilpres 2019 saat Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno.
“Beginilah politik kita, sangat dinamis dan cair. Persaingan keras biasanya hanya terjadi saat pemilu, setelah itu para aktor politik bisa kembali bekerja sama,” pungkasnya.