Berita

Buni Yani. (Foto: Inews)

Publika

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

SENIN, 27 APRIL 2026 | 14:07 WIB

SEJARAH intelektual di Eropa diwarnai oleh jejak tragis para martir yang membayar keberanian mereka dengan nyawa di atas tumpukan kayu bakar. Salah satu sosok yang paling berpengaruh adalah William Tyndale, seorang sarjana Inggris yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan Bible langsung dari teks Yunani dan Ibrani ke dalam Bahasa Inggris.

Meskipun karyanya menjadi fondasi bagi Bible versi King James yang monumental, Tyndale dianggap sebagai penjahat oleh otoritas gereja dan kerajaan. Setelah dikhianati oleh temannya sendiri di Antwerpen (kini Belgia), ia dipenjara dan akhirnya dieksekusi dengan cara dicekik lalu dibakar pada tahun 1536.

Doa terakhirnya yang memohon agar mata Raja Inggris dibukakan menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap monopoli kebenaran saat itu.


Tyndale bukanlah satu-satunya tokoh yang menghadapi nasib mengerikan itu di Eropa. Jauh sebelum dia, Jan Hus dari Bohemia telah lebih dulu dibakar pada tahun 1415 karena menuntut agar Bible menjadi otoritas tertinggi dan ibadah dilakukan dalam bahasa rakyat. Semangat Hus kemudian diikuti oleh Jerome dari Praha, yang juga menemui ajal di tiang gantungan setahun kemudian.

Tragedi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap doktrin yang sudah mapan, baik secara teologis maupun bahasa, selalu direspons dengan kekerasan ekstrem oleh otoritas yang merasa terancam.

Bahkan di kalangan reformis sendiri, kekerasan tetap terjadi. Michael Servetus, seorang dokter asal Spanyol, dieksekusi di Jenewa atas perintah otoritas Protestan di bawah John Calvin karena perbedaan pendapat mengenai konsep Trinitas. Di Italia, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup oleh Inkuisisi Romawi bukan karena isu Bible, tetapi karena pandangan kosmologisnya yang menyatakan bahwa semesta tidak terbatas.

Di Inggris, gelombang eksekusi mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Ratu Mary I, yang menyebabkan hampir 300 orang Protestan, termasuk Thomas Cranmer, Nicholas Ridley, dan Hugh Latimer, tewas dalam api demi mempertahankan keyakinan mereka.

Kekejaman ini bahkan melampaui kematian fisik seseorang sebagaimana yang dialami John Wycliffe. Meskipun ia meninggal puluhan tahun sebelumnya, sisa-sisa jenazahnya digali kembali, dibakar, dan abunya dibuang ke sungai sebagai bentuk hukuman atas terjemahan Bible yang ia buat.

Serangkaian eksekusi ini mencerminkan sebuah masa kelam di mana ide-ide baru, sains, dan keinginan untuk memberikan akses informasi langsung kepada rakyat dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan hingga menjadi abu. Kematian para tokoh menjadi katalisator bagi perubahan besar yang membentuk dunia modern, di mana kebebasan berpikir dan akses bahasa menjadi hal yang lumrah.

Penderitaan yang dialami para tokoh tersebut bukan sekadar hukuman fisik, melainkan simbol upaya sistematis untuk memutus akses individu terhadap pengetahuan. Di balik api yang menghanguskan tubuh mereka, terdapat ketakutan besar dari institusi kekuasaan bahwa jika rakyat mampu membaca teks suci atau memahami alam semesta tanpa perantara, maka struktur hierarki yang telah bertahan berabad-abad akan runtuh. 

Institusi kekuasaan pada masa itu melihat literasi bukan sebagai kemajuan, melainkan sebagai senjata pemberontakan. Jika teks suci tidak lagi bersifat eksklusif dalam Bahasa Latin yang hanya dipahami elit gereja, maka monopoli atas kebenaran akan hilang. Ketika rakyat bisa membaca sendiri, mereka mulai mempertanyakan kebijakan pajak, penjualan indulgensi (surat pengampunan dosa), hingga validitas kekuasaan monarki.

Hukuman bakar bukan sekadar metode eksekusi, melainkan sebuah teater kekuasaan. Dengan menghanguskan tubuh hingga menjadi abu, institusi tersebut mencoba menunjukkan bahwa ide-ide yang dibawa oleh sang tokoh telah musnah total dan tidak meninggalkan jejak fisik di bumi. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya bahwa kematian tragis mereka justru menjadi martir yang mempercepat penyebaran ide-ide tersebut melalui rasa simpati dan amarah publik.

Tujuan utama para reformis seperti Tyndale adalah menghilangkan perantara antara manusia dan pengetahuan. Dengan adanya terjemahan ke dalam bahasa rakyat, struktur hierarki yang selama berabad-abad menempatkan rakyat di posisi pasif pun runtuh.

Ini adalah benih dari individualisme modern -- keyakinan bahwa setiap orang memiliki hak dan kemampuan untuk mencari kebenaran secara mandiri tanpa harus selalu didikte oleh otoritas pusat. Ketika akses terhadap teks kitab suci dan pemahaman mengenai alam semesta mulai terbuka, hal itu secara otomatis mendegradasi peran para penjaga gerbang (gatekeepers) informasi yang selama ini memegang kendali atas pengetahuan masyarakat. 

Kehancuran hierarki yang dimaksud bukan sekadar perubahan struktural, melainkan pergeseran mental di mana individu tidak lagi merasa perlu menggantungkan kebenaran mereka pada penafsiran pihak ketiga.

Ketakutan institusi ini sangat beralasan. Begitu rakyat mampu membandingkan apa yang tertulis dalam teks dengan praktik yang dilakukan oleh para penguasa, kontradiksi dan ketidakadilan menjadi tampak nyata. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga soal kemampuan untuk berpikir kritis dan menggugat.

Itulah sebabnya, tiang gantungan dan api menjadi alat terakhir yang digunakan untuk mempertahankan dinding-dinding hierarki yang mulai retak tersebut.

Kematian Anne Askew di Inggris atau pembantaian para pengikut Anabaptist di daratan Eropa mempertegas bahwa tidak ada ruang bagi perbedaan penafsiran di tengah persinggungan antara agama dan politik yang kaku.

Ironisnya, api yang dimaksudkan untuk memadamkan pemikiran-pemikiran ini justru berfungsi sebagai obor yang menyebarkan pengaruh mereka lebih luas lagi. Kematian tragis Thomas Cranmer, yang dengan sengaja memasukkan tangan kanannya terlebih dahulu ke dalam api sebagai bentuk penebusan atas keraguannya, memberikan kekuatan moral bagi gerakan reformasi di Inggris.

Begitu pula dengan warisan Tyndale. Meskipun tubuhnya menjadi abu di Belgia, kata-kata yang ia pilih untuk Bible-nya meresap ke dalam sanubari budaya Inggris yang hingga kini digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Keberanian para tokoh ini menandai pergeseran besar dalam cara manusia memandang otoritas kebenaran. Dengan diterjemahkannya teks-teks sulit ke dalam bahasa sehari-hari, rahasia yang sebelumnya hanya dimiliki oleh segelintir elit kini berpindah ke tangan orang awam. 

Peristiwa ini tidak hanya memicu revolusi keagamaan, tetapi juga mendorong lahirnya literasi massal di seluruh Eropa. Masyarakat yang mulai belajar membaca demi memahami isi Bible tanpa bantuan pendeta secara perlahan mulai mempertanyakan aspek-aspek lain dalam kehidupan sosial dan politik, yang pada akhirnya memicu gelombang demokratisasi pengetahuan.

Pengorbanan para martir itu membuktikan bahwa gagasan yang benar tidak dapat dihancurkan hanya dengan membinasakan pembawanya. Meskipun institusi saat itu mencoba menghapus jejak para "penyimpang" ini dengan membakar buku-buku dan jasad mereka, mesin cetak Gutenberg memastikan bahwa pikiran mereka telah tersebar terlalu luas untuk bisa ditarik kembali.

Teknologi baru ini menjadi sekutu utama bagi mereka yang dieksekusi, yang mengubah setiap lembar halaman yang selamat dari api menjadi senjata melawan penindasan intelektual. Tanpa pengorbanan nyawa di tiang pembakaran, transisi dari abad kegelapan menuju era pencerahan mungkin akan memakan waktu yang jauh lebih lama.

Kini, tempat-tempat eksekusi tersebut, mulai dari Smithfield di London hingga Campo de' Fiori di Roma, berdiri sebagai pengingat akan pentingnya menjaga toleransi dan ruang dialog. Nama-nama seperti Tyndale, Hus, dan Bruno bukan lagi label bagi para bid’ah, melainkan simbol integritas bagi siapa saja yang berani mencari kebenaran meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan yang menindas.

Warisan mereka yang paling abadi bukanlah api yang menghanguskan mereka, melainkan cahaya pemikiran yang terus menerangi jalan bagi kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia di seluruh dunia hingga detik ini.

Dampak dari peristiwa-peristiwa tragis ini meluas jauh melampaui urusan dogma, karena mereka pada akhirnya mengubah struktur sosial dan hukum di dunia Barat. Penganiayaan yang tiada henti memaksa masyarakat untuk mulai mempertanyakan legalitas hukuman mati atas dasar perbedaan keyakinan.

Secara perlahan, konsep pemisahan antara urusan gereja dan negara mulai mengakar, didorong oleh kelelahan atas pertumpahan darah yang tak kunjung usai. Kematian para martir ini menjadi argumen kuat bagi para filsuf setelahnya untuk merumuskan prinsip-prinsip toleransi yang menjadi dasar bagi hukum hak asasi manusia internasional.

Tidak cuma itu. Transformasi bahasa yang dipicu oleh para penerjemah ini memberikan identitas nasional yang kuat bagi bangsa-bangsa di Eropa. Bahasa rakyat yang sebelumnya dianggap tidak layak untuk hal-hal suci, naik martabatnya menjadi bahasa sastra dan intelektual yang tinggi. 

Bible terjemahan Tyndale atau karya Jan Hus tidak hanya menyelamatkan jiwa bagi para pengikutnya, tetapi juga menyelamatkan bahasa mereka dari kepunahan atau ketertinggalan. Hal ini menciptakan rasa persatuan di antara masyarakat yang sebelumnya terfragmentasi, menyatukan mereka melalui kekuatan kata-kata yang kini dapat mereka pahami sepenuhnya.

Menengok kembali pada tumpukan kayu bakar di masa lalu itu, kita diingatkan bahwa kemajuan peradaban tidak pernah bergerak secara linear, melainkan melalui perjuangan yang penuh pengorbanan. Setiap percikan api yang menyentuh jasad para pemikir itu justru memicu ledakan intelektual yang tak terbendung di seluruh benua.

Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya