Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/istimewa)

Publika

Menanti Arah Reformasi Polri

SENIN, 27 APRIL 2026 | 04:56 WIB

SEJAK dibentuk pada 7 November 2025--dalam rentang tiga bulan kerja--Komite Percepatan Reformasi Polri sekurang-kurangnya telah menghasil 7 Buku dan 3 dokumen pengantar yanga memuat rekomendasi perbaikan institusi Polisi.

Komisi telah menyusun rekomendasi komprehensif bagi pembenahan institusi kepolisian. Namun, sebagai lembaga ad hoc, tugas Komisi tidak berhenti pada selesainya kerja administratif, melainkan pada sejauh mana rekomendasi tersebut ditindaklanjuti, diputuskan, dan dijalankan secara konsisten lewat formulasi kebijakan.

Di titik ini, reformasi kepolisian kembali diuji. Ia tidak pernah sekadar perkara merumuskan gagasan, melainkan menuntut keberanian politik untuk mengeksekusi perubahan.


Total 10 naskah rekomendasi yang dihasilkan komisi di atas--termasuk usulan revisi terhadap delapan Peraturan Kepolisian dan 24 Peraturan Kapolri--menunjukkan bahwa persoalan Polri bersifat sistemik.

Artinya, problem tidak hanya terletak pada perilaku individual aparat, tetapi juga pada struktur kelembagaan, tata kelola, dan kultur organisasi yang telah mengendap lama.

Sejumlah isu strategis yang diangkat komisi  misalnya terkait kedudukan Polri yang berada langsung di bawah Presiden, selama ini dimaknai sebagai bentuk kendali sipil atas aparat keamanan.

Namun, tanpa mekanisme pengawasan yang efektif, desain tersebut berpotensi menimbulkan konsentrasi kewenangan yang minim koreksi.

Mekanisme pemilihan Kapolri melalui persetujuan DPR memang menyediakan ruang checks and balances, untuk itu pengawasan harus dipastikan menjamin lahirnya kepemimpinan yang berorientasi pada agenda reformasi jangka panjang.

Penguatan Posisi Kompolnas

Dalam konteks inilah penguatan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menjadi sangat mendesak. Selama ini, pengawasan terhadap Polri masih didominasi mekanisme internal.

Padahal, dalam perspektif civilian oversight, pengawasan sipil yang independen merupakan prasyarat bagi tegaknya akuntabilitas institusi kepolisian.

Tanpa kehadiran pengawas eksternal yang kuat, reformasi internal berisiko terjebak dalam logika self-regulation yang terbatas--di mana institusi mengoreksi dirinya sendiri tanpa transparansi yang memadai di hadapan publik.

Secara teoretis, kebutuhan akan pengawasan sipil dapat dijelaskan melalui kerangka accountability theory. Akuntabilitas tidak hanya bersifat horizontal di dalam institusi, tetapi juga vertikal kepada masyarakat sebagai pemilik kedaulatan.

Dalam praktiknya, relasi ini sering kali timpang. Kepolisian memiliki kewenangan besar, sementara mekanisme kontrol publik relatif lemah. Akibatnya, kepercayaan publik mudah tergerus setiap kali muncul kasus penyimpangan.

Urgensi pembenahan ini semakin nyata jika melihat berbagai peristiwa dalam beberapa tahun terakhir. Kasus keterlibatan aparat dalam jaringan narkoba, kekerasan yang berujung kematian warga sipil, hingga konflik internal sesama anggota menunjukkan adanya persoalan yang tidak bersifat insidental.

Dalam perspektif street-level bureaucracy yang diperkenalkan Michael Lipsky, aparat di tingkat operasional memiliki diskresi yang luas.

Diskresi ini memang diperlukan dalam situasi lapangan yang kompleks, tetapi tanpa pengawasan yang efektif, ia berpotensi berubah menjadi penyalahgunaan kewenangan.

Garis Batas Domain Keamanan dan Sipil

Selain itu, isu penugasan anggota Polri di jabatan sipil juga menuntut kejelasan batas. Dalam negara hukum demokratis, pemisahan antara fungsi keamanan dan fungsi sipil menjadi prinsip penting.

Tumpang tindih peran tidak hanya mengaburkan profesionalitas, tetapi juga membuka ruang konflik kepentingan. Karena itu, sinkronisasi antara Undang-Undang Polri, Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, serta putusan Mahkamah Konstitusi menjadi langkah yang tak terelakkan.

Dalam kerangka yang lebih luas, reformasi Polri harus ditempatkan dalam perspektif democratic policing. Kepolisian bukan sekadar alat negara, melainkan institusi publik yang legitimasinya bergantung pada kepercayaan masyarakat.

Profesionalitas tanpa akuntabilitas hanya akan menghasilkan kekuasaan yang kering legitimasi. Sebaliknya, akuntabilitas tanpa kapasitas akan melahirkan institusi yang lemah. Keseimbangan antara keduanya menjadi tak terelakkan.

Di sinilah pendekatan civilian oversight menemukan relevansinya. Pengawasan sipil tidak dimaksudkan untuk melemahkan institusi kepolisian, melainkan justru memperkuat melalui mekanisme kontrol yang transparan dan akuntabel.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa kepolisian yang terbuka terhadap pengawasan publik cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, sekaligus kinerja yang lebih profesional.

Dokumen hasil kerja komisi yang akan diserahkan kepada Presiden menjadi momentum penting. Keputusan yang diambil pemerintah akan menentukan arah reformasi Polri ke depan: apakah ia menjadi pijakan bagi transformasi institusional, atau sekadar macan kertas dan arsip rekomendasi.

Target reformasi hingga 2029 memang memberi ruang bagi perubahan bertahap, tetapi tanpa desain pengawasan sipil yang kuat, proses tersebut berisiko kehilangan daya dorong.

Pada akhirnya, menanti hasil kerja Komisi Percepatan Reformasi Polri adalah menanti keberanian negara untuk menata ulang relasi antara kekuasaan dan pengawasan.

Reformasi sejati tidak hanya berbicara tentang perbaikan internal, tetapi juga tentang kesediaan membuka ruang bagi kontrol publik. Tanpa itu, reformasi polri tampak gagah di atas kertas, namun antiklimaks di level kehidupan praksis.

Abdul Khalid Boyan
Peneliti LP2M Universitas Sunan Gresik, TA DPR RI Bidang Aspirasi Masyarakat


Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya