Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

SENIN, 27 APRIL 2026 | 03:42 WIB | OLEH: ANTHONY BUDIAWAN

DI layar monitor terpampang angka yang membuat ruangan terdiam: Rp17.300 per Dolar AS. Beberapa wajah terlihat tegang. Yang lain mencoba tetap tenang. Lalu, seperti yang sudah berkali-kali terjadi selama lebih dari satu dekade, muncul satu kalimat yang terasa akrab: “Rupiah masih undervalued.”

Kalimat ini bukan hal baru. Tetapi, diucapkan berulang kali saat gejolak global, saat pandemi, bahkan saat pasar relatif tenang. Narasi ini selalu hadir setiap kali rupiah melemah.

Mengapa cerita ini terus berulang? Ketika pasar bergejolak, modal asing keluar, rupiah melemah, selalu datang penjelasan yang selalu sama: Ini faktor eksternal, fundamental kita kuat, rupiah berada di bawah nilai wajarnya. Dan masyarakat diminta percaya bahwa rupiah anjlok hanya untuk sementara. 


Sementara itu, tahun berganti. Episode berganti. Tapi skripnya tetap sama. Dari 2015, 2018, 2020, hingga 2026 ketika rupiah kembali tertekan narasi undervalued tidak pernah absen. Tetapi, faktanya rupiah justru terus mengalami depresiasi selama lebih dari satu dekade.

Oleh karena itu, kita patut bertanya kritis: Apakah rupiah benar undervalued, atau kita keliru memahami nilai wajarnya?

Di satu sisi, fundamental ekonomi terlihat kuat: inflasi terkendali, pertumbuhan relatif stabil, sistem keuangan terjaga.

Namun di lain sisi, realitas ekonomi mencerminkan dinamika yang memprihatinkan: cadangan devisa ditopang utang, investasi masuk tetapi hasil investasi (dividen dan bunga) mengalir keluar lebih banyak, struktur ekonomi terus melemah--termasuk deindustrialisasi dini, dan ketergantungan pada arus modal asing jangka pendek.

Pola tersebut terus berulang, merefleksikan fundamental ekonomi yang sebenarnya.

Oleh karena itu, narasi “rupiah undervalued” secara substansi telah kehilangan pijakan analisis objektifnya. Narasi ini sudah menjelma menjadi alat komunikasi untuk menenangkan pasar, memberi sinyal optimisme, dan menekan kepanikan. Namun, narasi akan menjadi problematis ketika terus diulang tanpa diiringi perubahan nyata.

Seperti dokter yang setiap kali berkata kepada pasiennya: “Kondisi Anda sebenarnya baik, ini hanya faktor eksternal.” Tetapi, faktanya, pasien tersebut sibuk bolak-balik ke rumah sakit, bahkan kondisi kesehatannya semakin memburuk. Pada titik tertentu, pertanyaannya tidak lagi tentang kondisi pasien, tetapi beralih kepada kredibilitas ketepatan diagnosisnya.

Begitu juga dengan rupiah. Apabila sejak 2014 selalu dikatakan undervalued, sementara secara tren terus terdepresiasi dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp17.000, maka wajar timbul pertanyaan: Apakah depresiasi ini benar karena masalah global, atau mencerminkan permasalahan yang lebih mendasar di DN?

Pertanyaan kritisnya: Bagaimana kalau rupiah tidak undervalued--tetapi justru mencerminkan realitas ekonomi yang sebenarnya?

Fakta ini tidak akan berubah hanya dengan narasi “rupiah undervalued”. 

Bank sentral tidak bisa mengubah fundamental dan membangun kepercayaan masyarakat hanya dari narasi yang terus diulang, tetapi harus berdasarkan realitas.

Jika “Rupiah Undervalued” terus diulang selama lebih dari satu dekade tanpa perbaikan nyata, bahkan cenderung sebaliknya, maka yang perlu dievaluasi bukan saja nilai wajar rupiah, tetapi juga pemahaman tentang fundamental tersebut.

Nilai tukar rupiah yang melemah di kisaran Rp17.300 mulai memberi dampak nyata ke kehidupan sehari-hari.

Pelemahan ini membuat harga barang impor ikut naik, termasuk bahan baku industri. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang di pasaran termasuk kebutuhan pokok.

Dampak lanjutannya, daya beli masyarakat bisa tertekan. Pengeluaran rumah tangga makin besar, sementara kemampuan membeli belum tentu ikut naik.

Kondisi ini jadi pengingat bahwa pergerakan nilai tukar bukan sekadar angka di layar, tapi punya efek langsung ke dapur masyarakat.

*Penulis adalah Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya