Berita

Salah satu kapal penangkap ikan dengan alat penangkapan ikan Jaring Hela Udang Berkantong (JHUB), yang diperiksa KKP. (Foto: Website kkp.go.id)

Politik

KKP Buka Suara Soal Dugaan Kapal Pukat Harimau di Merauke

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 19:19 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merespons kabar viral terkait dugaan pengoperasian kapal penangkap ikan jenis trawl atau pukat harimau di Merauke, Papua Barat.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menegaskan kapal yang beroperasi bukanlah trawl, melainkan menggunakan alat tangkap Jaring Hela Udang Berkantong (JHUB).

“Pengoperasian kapal dengan alat tangkap JHUB hanya diperbolehkan di wilayah tertentu yang telah ditetapkan secara jelas dalam peta dan titik koordinat,” ujar Latif dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu, 26 April 2026.


Ia menjelaskan, penggunaan JHUB tidak dilakukan secara bebas. Setiap kapal harus melalui seleksi ketat serta dibatasi pada zona dan koordinat tertentu sesuai kebijakan yang berlaku.

“Hal ini untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih dengan wilayah tangkap nelayan kecil,” tegasnya.

Latif menambahkan, penguatan tata kelola perikanan tangkap terus dilakukan guna menjaga keberlanjutan sumber daya ikan, mendorong investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata.

Pengaturan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36 Tahun 2023 tentang Penempatan Alat Penangkapan Ikan di Zona Penangkapan Ikan Terukur dan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

“Dalam regulasi itu sudah diatur jelas alat tangkap yang diperbolehkan dan yang dilarang. Pukat harimau atau trawl termasuk yang dilarang karena berpotensi merusak sumber daya ikan,” jelasnya.

Sementara itu, JHUB merupakan alat tangkap yang diperbolehkan dengan spesifikasi ketat agar tidak merusak ekosistem maupun mengganggu nelayan lain.

Lebih lanjut, KKP juga telah menerbitkan Surat Edaran Dirjen Perikanan Tangkap Nomor B.315/MEN-DJPT/PI.220/IV/2026 yang mengatur pengoperasian JHUB di Zona 03 WPPNRI 718.

Aturan itu menegaskan, penangkapan ikan dengan JHUB hanya boleh dilakukan di titik koordinat yang telah ditentukan, menggunakan alat sesuai spesifikasi, serta wajib memperhatikan keberadaan kapal nelayan lain.

KKP juga mewajibkan pelaku usaha menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan selama operasi, serta menghindari potensi konflik di lapangan.

“Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkas Latif.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya