Berita

Deklarasi lawan antikorupsi di Wonosobo. (Foto: Istimewa)

Politik

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 07:36 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara tegas menyatakan perang terhadap hoaks sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan, memperkuat kepercayaan publik, serta menciptakan iklim investasi yang sehat.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan sikap tersebut dalam seminar "Wonosobo Melawan Hoaks" yang digelar di Gelanggang Olahraga Kampus Universitas Sains Alquran (UNSIQ 2), Sabtu, 25 April 2026.

Dalam forum itu, ia menekankan bahaya serius dari penyebaran informasi palsu terhadap stabilitas sosial dan pembangunan daerah.


"Jangan biarkan masyarakat kita terpecah oleh informasi yang tidak benar. Informasi harus menjadi alat untuk membangun, bukan memecah belah," kata Ahmad Luthfi seperti dikutip RMOL, Minggu, 26 April 2026.

Seminar tersebut diinisiasi oleh Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) yang dipimpin Mantep Abdul Gani dengan menghadirkan sejumlah narasumber nasional seperti Iswandi Syahputra, Indra Jaya Piliang, serta Hersubeno Arief.

Koordinator Nasional GMPP, Mantep Abdul Gani, dalam kesempatan yang sama menyoroti pentingnya stabilitas informasi untuk mendorong kemajuan daerah. Ia menyebut Wonosobo memiliki potensi besar tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan investasi dan kota hunian.

"Wonosobo jangan hanya jadi kota destinasi wisata. Kita ingin menjadi kota investasi, tempat orang datang, tinggal, dan berkontribusi secara ekonomi," ujarnya.

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga masyarakat umum ini juga menjadi momentum deklarasi Wonosobo melawan Hoaks yang dipimpin Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, bersama GMPP.

Dalam deklarasi tersebut, para peserta menyatakan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk hoaks, disinformasi, dan informasi menyesatkan, serta menjadi pengguna media digital yang bijak, kritis, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Hersubeno Arief dalam paparannya mengungkap contoh konkret hoaks yang beredar di media sosial dan berpotensi memicu konflik sosial. Ia menyoroti informasi yang dipelintir terkait pernyataan Jusuf Kalla hingga kabar palsu mengenai wafatnya tokoh tersebut.

"Hoaks ini kalau dipercaya bisa memicu permusuhan antara umat beragama," kata Hersubeno.

Tambah lagi, lanjutnya, sempat beredar hoaks yang menyebut Jusuf Kalla meninggal dunia dan telah disebarkan oleh ribuan pengguna.

"Saya juga sudah mengecek ke berbagai kanal resmi media baik mainstream maupun media sosial, itu tidak ada," jelas Hersubeno.

Narasumber lain, Indra Jaya Piliang, menekankan pentingnya sikap skeptis terhadap setiap informasi yang diterima masyarakat, khususnya melalui ponsel pintar. Ia mengingatkan bahwa verifikasi merupakan prinsip utama dalam dunia jurnalistik.

"Metode di jurnalistik adalah tidak mempercayai setiap informasi yang datang ke kita. Cek dulu kebenarannya melalui berbagai jalur bisa seperti google atau berbagai platform AI," kata Indra J Piliang.

Ia juga menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan jaringan profesional, termasuk wartawan, dalam memastikan kebenaran informasi.

"Bapak Ibu juga bisa bertanya ke wartawan karena biasanya wartawan punya metode untuk mengecek kebenaran sebuah informasi," lanjutnya.

Di sisi lain, Profesor Iswandi Syahputra menjelaskan perbedaan mendasar antara hoaks dan mitos dalam konteks sosial. Ia menilai hoaks umumnya berkaitan dengan kepentingan politik dan kekuasaan, sedangkan mitos lebih terkait budaya dan keyakinan masyarakat.

"Hoax biasanya terkait politik dan kekuasaan, bukan kebenaran, kalau mitos terkait budaya yang telah menjadi keyakinan," kata Prof Iswandi.

Ia juga mengungkap bahwa penyebaran hoaks didorong oleh algoritma media sosial yang memberikan insentif terhadap konten sensasional.

"Cara menghentikan hoax tidak cepat menyebar adalah dengan tidak melanjutkan menonton video hoax sebelum lima detik. Karena setelah lima detik kita sama saja memberikan gift, like, adsense ke pembuat hoax," terang Prof Iswandi.

Para narasumber sepakat bahwa diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh nasional dalam melawan hoaks secara sistematis. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan sosial sekaligus meningkatkan daya tarik investasi daerah.

"Dari Wonosobo, kami menyatakan melawan hoaks adalah langkah nyata menjaga kebenaran, menjaga persatuan, dan menjaga masa depan Indonesia," bunyi deklarasi dimaksud.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya