Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Tanpa Kubu Tetap

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 05:13 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DUNIA pernah sederhana. Setidaknya tampak sederhana. Ada Timur, ada Barat. Ada Washington, ada Moskow.

Bahkan setelah Perang Dingin usai, dunia masih mencoba berpura-pura rapi yaitu satu kutub dominan, satu sistem keuangan, satu bahasa kekuasaan. Negara-negara lain tinggal memilih untuk ikut atau tersisih.

Tapi dunia 2026 tidak lagi mengenal kesederhanaan itu. Ia berubah menjadi pasar yang riuh, tempat semua orang bertransaksi, bernegosiasi, dan yang paling penting: menarik keuntungan.


Dan di tengah keramaian itu, Indonesia muncul bukan sebagai pembeli pasif, tapi sebagai pedagang yang tahu kapan harus menawar, kapan harus menahan, dan kapan harus pergi.

Inilah yang oleh banyak pemikir hubungan internasional disebut sebagai pergeseran dari alignment menuju strategic autonomy, bahkan lebih jauh lagi yaitu multi-alignment, atau yang oleh sebagian analis disebut omni-enmeshment.

Samir Saran dari Observer Research Foundation menyebutnya sebagai era ketika negara tidak lagi terikat pada satu poros, melainkan membangun jejaring kepentingan ke segala arah.

Dunia tidak lagi seperti rel kereta yang memaksa kita memilih jalur. Ia lebih mirip persimpangan besar tanpa lampu lalu lintas, dimana siapa cepat, dia dapat. Dan Indonesia adalah contoh hidup dari perubahan ini.

Apa yang dilakukan Jakarta yaitu bermain di antara BRICS, Amerika Serikat, Rusia, dan kekuatan regional, bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari perubahan yang lebih besar.

Brazil di bawah Luiz Inácio Lula da Silva berbicara tentang dedolarisasi, tapi tetap menjaga hubungan erat dengan Barat. Arab Saudi membuka pintu bagi investasi China, sambil tetap berteduh di bawah payung keamanan Amerika. Vietnam mempererat hubungan strategis dengan Washington, tanpa memutus relasi ekonomi dengan Beijing.

Semua bergerak dalam satu pola yang sama yakni bukan memilih kubu, tapi memaksimalkan posisi.

Dalam literatur klasik, gagasan ini sebenarnya punya akar yaitu Stephen Walt, pemikir realisme, memperkenalkan teori balance of threat alias keseimbangan ancaman, dimana negara tidak sekadar menyeimbangkan kekuatan, tapi ancaman.

Namun hari ini skalanya berubah. Ancaman tidak lagi tunggal. Ia datang dari energi, teknologi, finansial, bahkan mata uang. Maka responsnya pun tidak cukup dengan satu aliansi. Ia membutuhkan banyak jalur sekaligus.

Di sinilah hedging berevolusi. Ia bukan lagi sekadar strategi berjaga-jaga, tapi berubah menjadi mekanisme aktif untuk mengekstraksi nilai dari setiap hubungan. Seolah-olah setiap negara kini membawa keranjang sendiri ke pasar global yang bukan untuk membeli, tapi untuk berdagang.

Namun ada satu lapisan yang sering luput dari perhatian yaitu kontradiksi dolar.

Indonesia, seperti banyak negara Global South lainnya, mulai mendorong diversifikasi mata uang. Transaksi bilateral dalam mata uang lokal, penguatan lembaga seperti New Development Bank (NDB), hingga upaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika.

Semua ini tampak seperti langkah menuju dunia pasca dolar. Tapi pada saat yang sama, kontrak pertahanan, teknologi, dan sebagian besar perdagangan strategis tetap berdenominasi dolar.

Ini bukan inkonsistensi. Ini realitas transisi. Barry Eichengreen dari University of California, Berkeley, pernah menegaskan bahwa dominasi dolar tidak runtuh dalam semalam. Ia tidak digulingkan, ia perlahan dikikis.

Maka yang kita lihat hari ini bukanlah penggantian sistem, tapi penumpukan sistem. Dunia lama belum mati. Dunia baru belum lahir sepenuhnya. Dan di celah inilah negara-negara seperti Indonesia menemukan ruang geraknya.

Metaforanya sederhana bahwa dunia sedang berada di antara dua musim. Musim lama belum benar-benar pergi. Musim baru belum sepenuhnya datang. Udara menjadi tidak menentu. Bagi yang tidak siap, ini adalah kekacauan. Tapi bagi yang cermat, ini adalah peluang.

Indonesia tampaknya memilih menjadi petani yang sabar dengan menanam di dua musim sekaligus. Namun strategi ini tidak tanpa risiko.

Semakin banyak hubungan yang dibangun, semakin kompleks pula pengelolaannya. Setiap kedekatan membawa ekspektasi. Setiap manuver memunculkan kecurigaan.

Henry Kissinger pernah mengingatkan bahwa diplomasi bukan hanya soal membangun hubungan, tapi menjaga keseimbangan persepsi. Dan di sinilah ujian sesungguhnya.

Apakah Indonesia mampu menjaga semua jalur tetap terbuka tanpa terjebak dalam tarik-menarik kepentingan yang semakin tajam?

Karena dunia ke depan tidak lagi menilai negara dari siapa sekutunya, tapi dari seberapa luwes ia mengelola ketergantungan.

Karena itu, perubahan terbesar bukan pada peta dunia, tapi pada cara negara berpikir.

Dari loyalitas menuju kalkulasi.
Dari ideologi menuju kepentingan.
Dari memilih… menjadi menegosiasikan.

Indonesia hari ini adalah cermin dari perubahan itu. Ia bukan lagi sekadar negara berkembang yang mencari tempat. Ia adalah pemain yang sedang menguji batas permainan itu sendiri.Deposit Togel Murah

Dan dunia, dengan segala ketidakpastiannya, sedang menyaksikan satu eksperimen besar, bisakah sebuah bangsa tetap merdeka… sambil berteman dengan semua?

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya