Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Saham Eropa Melemah Tajam, Investor Waspadai Risiko Inflasi dan Energi

SABTU, 25 APRIL 2026 | 07:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa menutup pekan ini dengan tekanan cukup tajam, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan lonjakan inflasi. 

Ketidakpastian yang menyelimuti perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama ambruknya sentimen pasar, terutama karena pasokan energi global masih sangat terganggu oleh konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.

Indeks acuan kawasan, STOXX Europe 600, tercatat melemah 0,6 persen ke level 610,65 pada perdagangan Jumat 24 April 2026 waktu setempat, menjadi posisi terendah dalam lebih dari dua pekan. 


Secara mingguan, indeks ini terkoreksi sekitar 2,5 persen, sekaligus mengakhiri reli positif selama empat pekan berturut-turut.

Investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah potensi eskalasi konflik yang dapat memperburuk krisis energi global. 

Dalam konteks Eropa, isu energi memang menjadi faktor krusial, mengingat kawasan ini masih sangat sensitif terhadap gangguan pasokan minyak dan gas, terutama sejak dampak lanjutan dari konflik geopolitik beberapa tahun terakhir.

Bursa utama di kawasan juga ditutup di zona merah. Indeks FTSE 100 di Inggris turun 77 poin atau 0,8 persen ke level 10.379. Sementara itu, indeks DAX di Jerman melemah tipis 26 poin atau 0,1 persen ke 24.128. Di Prancis, indeks CAC 40 terkoreksi 69 poin atau 0,8 persen ke posisi 8.157.

Secara lebih luas, pergerakan ekuitas Eropa sepanjang 2025 hingga awal 2026 memang menunjukkan dinamika yang fluktuatif. Setelah sempat menguat didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dari European Central Bank, pasar kembali dihadapkan pada realitas bahwa tekanan inflasi—terutama dari sektor energi—masih belum sepenuhnya mereda.

Sektor-sektor sensitif seperti industri manufaktur dan kimia di Eropa juga terdampak langsung oleh tingginya biaya energi. Di sisi lain, sektor pertahanan dan energi justru cenderung outperform dalam beberapa bulan terakhir, seiring meningkatnya belanja militer dan volatilitas harga komoditas global.

Investor kini mencermati sejumlah faktor kunci ke depan, mulai dari arah kebijakan suku bunga ECB, perkembangan konflik geopolitik, hingga stabilitas pasokan energi menjelang musim dingin berikutnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Muktamar NU Turut Gerakan Ekonomi Masyarakat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:22

Puan Anggap Santai Ocehan Budi Arie soal Percepatan Pemilu

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:11

Ada Angka Favorit Prabowo di Balik Muktamar NU

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:09

Bisnis Makin Kompleks, Profesi PPGA Disiapkan untuk Kelola Risiko Kebijakan dan Politik

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

Prabowo Tiba di Lokasi Muktamar ke-35 NU, Disambut Rais 'Aam hingga Gus Yahya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

LKPP 2025 Kembali Raih WTP ke-10 Sejak 2016, Ini Catatan Purbaya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:54

Menkop Ingin Koperasi dan Pariwisata Kerek Ekonomi Daerah

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

IPW Minta Dugaan Penipuan Rp58,5 Miliar Libatkan Perwira Polri Diuji Profesional

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

KPK Panggil Mantan Pj Bupati Muara Enim Hingga Petinggi Swasta di Kasus Suap Edison

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:46

Jangan Sampai UU Perampasan Aset Buka Celah Penyalahgunaan Wewenang

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:43

Selengkapnya