Berita

Wapres ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) saat memberi ceramah tarawih Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta pada Kamis, 5 Maret 2026. (Foto: Dokumentasi UGM)

Politik

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

SABTU, 25 APRIL 2026 | 02:37 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) yang viral karena dituding menistakan suatu agama ternyata ada manipulasi di dalam konteksnya dan sengaja digembar-gemborkan.

Peneliti Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid mengungkap viralnya potongan video JK merupakan upaya dekonstektualisasi dengan memotong video panjang menjadi pendek-pendek sehingga kehilangan konteksnya. 

"Apa yang terjadi adalah video aslinya 43 menit yang membahas tentang 'Strategi Diplomasi Indonesia dalam Mitigasi Eskalasi Perang Regional Multipolar', lalu dipotong pendek-pendek sehingga kehilangan konteksnya, baik historis maupun akademiknya," kata Nova dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 24 April 2026. 


Menurutnya, pernyataan JK tentang 'mati syahid' itu merupakan refleksi historis terkait konflik di Poso dan Ambon bukan mengajarkan atau mendukung doktrin kekerasan berbasis agama.

"Kata 'Mati Syahid' adalah dalam konteks refleksi historis terkait konflik di Poso dan Ambon, tetapi diputarbalikkan seolah JK mengajarkan dan mendukung doktrin kekerasan," ungkapnya. 

Nova memandang, penyebaran potongan pendek JK ini terstruktur dan masif di media sosial (medsos). 

Dia menyatakan, temuan data Drone Emprit mencatat ada lebih dari 34.600 mention dengan 17 persen sentimen bernada negatif, dan lebih dari 1.600 percakapan bernada marah di semua platform. 

"Bahkan di Twitter/X ada konten yang engagement-nya mencapai 2,5 juta," tegasnya.

Selain itu, ia juga melihat sejumlah akun yang secara sistematis dan masif memotong dan menyebarkan konten provokatif tersebut. 

"Dilihat dari penyebarannya ini baru ramai sebulan setelah ceramah di UGM (Universitas Gadjah Mada)," tutur dia. 

Nova menyebut potensi konflik SARA dari manipulasi konten medsos ini relatif tinggi, terlebih setelah amplifikasi terstruktur ada upaya eskalasi yang dilakukan dengan pelaporan JK di berbagai daerah ke polisi. 

"Terlepas benar atau tidaknya, ini berarti ada upaya mobilisasi berbasis sentimen agama, meski saya berharap ini tidak membesar. Ada dikotomi yang terjadi di publik, antara membela JK atau membela umat Kristen. Ini yang sangat berbahaya," jelasnya. 

Untuk itu, ia menyarankan beberapa hal agar kasus seperti ini tidak menjadi konflik SARA. Diantaranya dengan literasi digital, penguatan verifikasi, dan edukasi tentang teknik manipulasi di media sosial. 

"Bisa dilakukan dengan kampanye setop dulu atau tonton dulu secara utuh, jangan yang potongan. Kedua, fact checker harus diperkuat, dan ketiga masyarakat harus diberitahu bagaimana dekonstualisasi itu bekerja, atau selective editing itu dilakukan, dan AI generate konten digunakan untuk memanipulasi opini," jelasnya lagi. 

"Sehingga, pemuka agama harusnya memberikan klarifikasi, dan membangun narasi bersama tentang sejarah dengan benar agar kita bisa melihat secara utuh di lapangan," pungkas Nova.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya