Berita

Bendera partai politik peserta Pemilu 2024. (Foto: RMOL)

Politik

Usulan KPK Soal Batas Ketum Parpol Dinilai Anomali

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 13:24 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kajian terkait tata kelola partai politik guna mencegah praktik korupsi. Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pembatasan masa jabatan ketua umum partai politik maksimal dua periode.

Namun, usulan tersebut menuai penolakan dan kritik dari sejumlah partai politik.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, kondisi politik di Indonesia memang menunjukkan kecenderungan kuat bahwa ketua umum menjadi figur sentral dalam partai.


“Negara kita ada kecenderungan bahwa ketua umum partai politik adalah segalanya. Secara historis, pendiri partai biasanya langsung didapuk menjadi ketua umum karena dianggap punya instrumen dan kapasitas membesarkan partai,” ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Kamis, 24 April 2026.

Ia menjelaskan, sebagian besar partai politik di Indonesia sangat bergantung pada figur ketua umum, baik dari sisi pesona, kewibawaan, kekuatan struktur, hingga jejaring politik yang dimiliki.

“Bahkan dalam banyak hal, hidup mati partai itu ditentukan oleh ketua umumnya,” jelasnya.

Menurut Adi, hal inilah yang membuat partai cenderung enggan melakukan pergantian kepemimpinan secara berkala, termasuk membatasi masa jabatan ketua umum.

“Magnet utama partai itu ada pada ketua umum. Karena itu, apakah menjabat lebih dari dua periode, sangat tergantung pada kebutuhan dan strategi politik masing-masing partai,” katanya.

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa dalam literatur politik modern, partai yang kuat seharusnya tidak bergantung pada satu figur semata, melainkan pada sistem, nilai, serta visi dan misi kelembagaan.

“Secara teori, partai modern itu tidak tergantung pada siapa ketua umumnya. Siapa pun pemimpinnya, partai tetap solid dan kompetitif karena bertumpu pada sistem dan nilai perjuangan,” paparnya.

Namun, Direktur Parameter Politik Indonesia itu melihat praktik politik di Indonesia justru menunjukkan kondisi yang berbeda.

“Kalau kita lihat, partai politik di Indonesia seperti anomali. Kekuatan politiknya sangat tergantung pada figur ketua umum,” pungkasnya.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya