Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menegaskan bahwa kunci sukses migrasi ke kendaraan listrik bukan cuma soal unit motornya, tapi soal aturan pemerintah yang harus kompak.
Di tengah ancaman krisis energi, motor listrik bukan lagi sekadar gaya hidup ramah lingkungan, tapi cara ampuh untuk menyelamatkan kantong negara.
riset INDEF (2025) menyebutkan kalau kita berhasil mengalihkan 10 persen saja kendaraan ke listrik, negara bisa hemat subsidi BBM sampai Rp12,3 triliun per tahun. Bahkan, penghematan total subsidi BBM bisa mencapai Rp296,9 triliun, angka yang jauh lebih besar dibanding nilai insentif pajak yang diberikan pemerintah.
Hasilnya pun sudah mulai terasa. Dalam tiga tahun terakhir, investasi senilai 2,73 miliar Dolar AS sudah masuk dari nama-nama besar seperti BYD dan Mitsubishi.
Pengguna kendaraan listrik pun naik drastis, dari hanya 1 persen di tahun 2022 menjadi hampir 13 persen di tahun 2025. Namun, AISMOLI mengingatkan agar aturan baru, seperti Permendagri 11/2026, jangan sampai membingungkan masyarakat dan pelaku usaha karena berbeda dengan UU yang sudah ada.
"Kebijakan yang baik tidak cukup, namun harus selaras dan sampai ke lapangan dengan satu tafsir yang sama. Kepastian kebijakan menjadi barang mahal dan dibutuhkan bagi industri untuk berinvestasi, berproduksi, dan melayani masyarakat dengan sungguh-sungguh," ujar Budi Setiyadi, Ketua Umum AISMOLI, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Jumat 24 April 2026.
AISMOLI pun menawarkan tiga solusi agar transisi ini makin mulus.
Pertama, aturan pajak di daerah harus disamakan agar tidak ada lagi kebingungan soal biaya.
Kedua, perlu ada forum koordinasi rutin antar kementerian supaya kebijakan yang keluar selalu satu suara.
Ketiga, pemerintah perlu merangkul asosiasi industri sebagai teman diskusi dalam menyusun aturan agar sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Langkah percepatan ini, terutama pada segmen roda dua, juga menjadi investasi langsung bagi kesehatan publik mengingat sektor transportasi menyumbang 23 persen emisi GRK di perkotaan. Beralih ke listrik berarti memberi udara yang lebih bersih bagi jutaan warga.
Budi optimistis bahwa dengan pasar yang besar dan sumber daya mineral yang kaya, Indonesia mampu menjadi pemimpin transisi EV di Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan, dan kini tinggal memastikan setiap kebijakan mendorong ke arah yang sama demi menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.