Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Terpuruk Digerus Nasib Gencatan Senjata

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 08:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pergerakan saham di bursa Amerika Serikat (AS) terpantau melemah seiring memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan cepat terkait konflik Iran.

Dikutip dari Reuters, Jumat 24 April 2026, pada penutupan Kamis, indeks Dow Jones turun 0,36 persen, S&P 500 melemah 0,41 persen, dan Nasdaq terkoreksi lebih dalam sebesar 0,89 persen. 

Setelah sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir karena optimisme penyelesaian konflik dan ekspektasi kinerja perusahaan yang solid, pasar kini mulai kehilangan momentum. Bahkan, sebelumnya Nasdaq telah mengakhiri tren kenaikan panjangnya akibat memudarnya optimisme tersebut.


Dari sisi kinerja perusahaan, sektor teknologi menjadi yang paling tertekan. Saham IBM turun tajam setelah pertumbuhan pendapatannya melambat, terutama di bisnis perangkat lunak. 

Saham ServiceNow juga anjlok karena tertundanya sejumlah kontrak pemerintah di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa model bisnis tradisional di sektor software bisa terganggu oleh teknologi AI yang berkembang pesat.

Namun tidak semua saham melemah. Texas Instruments justru melonjak sekitar 19 persen, mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari 25 tahun, setelah memberikan proyeksi pendapatan dan laba kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.

Secara keseluruhan, musim laporan keuangan masih tergolong kuat. Sekitar 82 persen perusahaan yang telah melaporkan kinerjanya berhasil melampaui ekspektasi analis, dengan pertumbuhan laba mencapai 15,6 persen. Meski begitu, ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi membuat investor tetap berhati-hati.

Data ekonomi terbaru menunjukkan klaim pengangguran di AS hanya naik tipis, menandakan pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Namun, risiko inflasi akibat kenaikan harga energi diperkirakan dapat menekan pertumbuhan ekonomi ke depan.

Ketegangan di bursa meningkat setelah Iran memperketat kendali di Selat Hormuz dan muncul laporan aksi militer, termasuk klaim penyitaan kapal kargo serta aktivasi sistem pertahanan udara akibat ancaman drone. Selain itu, mundurnya Ketua Parlemen Iran dari tim negosiasi juga menambah ketidakpastian. 

Kenaikan harga minyak yang mendekati 100 Dolar AS per barel semakin memperbesar kekhawatiran inflasi dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya