Berita

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam jumpa pers di kediamannya Jalan Brawijaya IV No.12, Jakarta Selatan pada Sabtu 18 April 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

JK Semakin Berkibar Usai Nyenggol Ijazah Jokowi

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 02:02 WIB

BELAKANGAN nama Jusuf Kalla alias JK sering muncul di beranda. Namanya berkibar. Itu setelah ia nyenggol ijazah Jokowi, lalu dilaporkan kader PSI ke polisi. Apakah ini strategi politik? 

Awalnya sederhana tapi berasa seperti bensin disiram ke bara. Di konferensi pers di rumahnya di Jakarta Selatan, Sabtu 18 April 2026, JK kelihatan kesal karena ikut terseret pusaran isu ijazah Jokowi. Dengan nada emosi yang jarang keluar dari sosok setenang dia, keluar kalimat yang langsung jadi legenda digital. 

“Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa saya bawa dia dari Solo jadi gubernur DKI, mana bisa jadi presiden?” 


Sebuah klaim jasa politik yang bukan cuma pengingat sejarah, dari dorongan ke Megawati Soekarnoputri sampai kursi RI-1, tapi juga sekaligus nasihat. “Sudahlah, tunjukkan saja ijazahnya biar rakyat berhenti bertengkar.” Satu kata “termul” berubah jadi mata uang baru di TikTok. Meme beranak-pinak, timeline penuh potongan video, dan nama JK langsung trending tanpa rem.

Belum sempat suasana adem, babak berikutnya muncul seperti plot twist sinetron yang ditulis sambil ngopi tiga gelas. 

Tanggal 5 Maret 2026, JK ceramah di Masjid UGM tentang konflik Poso dan Ambon, dua luka lama yang dulu dia bantu damaikan. 

Dengan gaya juru damai, dia bilang, “Tunjukkan ke saya, agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada.” 

Intinya jernih, jangan bunuh atas nama Tuhan. Tapi di negeri algoritma, kejernihan sering kalah cepat dari gunting editor. Video dipotong-potong seperti trailer film horor, konteks dihilangkan, narasi dipelintir, dan boom, ledakan kedua.

Organisasi seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Pemuda Katolik, dan beberapa ormas Kristen melaporkan JK ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama. 

Bahkan Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) ikut nimbrung dalam drama laporan. Ada kader dari Partai Solidaritas Indonesia yang ikut meramaikan, meski partai menegaskan itu bukan sikap resmi. 

JK yang biasanya kalem berubah jadi gerah. Dia menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan mulai mempertimbangkan langkah hukum balik kepada para pemfitnah.

Puncaknya datang Senin 20 April 2026. Aliansi Profesi Advokat Maluku, lewat advokat Paman Nurlette, resmi melaporkan Permadi Arya alias Abu Janda dan Ade Armando ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. 

Tuduhannya, mereka diduga pertama menyebarkan potongan video ceramah JK dengan narasi penghasutan. Seolah sengaja menyulut api di antara umat Islam dan Kristen. 

Ironinya menusuk. Sosok yang dikenal sebagai perantara damai Maluku kini terseret dalam perang digital yang bisingnya melebihi dentuman konflik lama itu sendiri.

Lihat betapa nyelenehnya orkestrasi negeri ini. Satu tokoh yang dulu meredam konflik berdarah paling mengerikan di era reformasi, kini jadi pusat badai komentar, potongan video, dan caption bombastis. 

Nyenggol ijazah Jokowi bikin dia nyebut “termul” sambil dipuja sebagai senior blak-blakan. Ceramah perdamaian justru dipelintir jadi alasan laporan penistaan. 

Lalu, babak balasan hukum muncul seperti sekuel yang tak pernah diminta penonton. Nama JK yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang malah makin berkibar, terang, silau, dan sedikit absurd.

Ini bukan sekadar politik. Ini teater realitas dengan naskah yang ditulis oleh algoritma. Emosi publik, dan potongan 15 detik tanpa konteks. Di panggung ini, klarifikasi kalah cepat dari sensasi. Niat baik bisa berubah jadi headline panas dalam hitungan jam. 

Satu hal pasti, nama JK makin berkibar. Entah sebagai simbol keberanian bicara atau korban dari zaman yang terlalu cepat menyimpulkan. 

Tinggal menunggu, apakah aparat bisa merapikan benang kusut ini sebelum episode berikutnya tayang. Karena di sini, ceramah damai pun bisa berubah jadi bahan bakar trending yang bikin semua orang tertawa sambil bingung.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya