Berita

Panji Nahdlatul Ulama (NU). (Foto: IAIN Tuban)

Politik

'Asal Bukan Koruptor' Syarat Mutlak Muktamar NU

KAMIS, 23 APRIL 2026 | 13:45 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Wacana menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Juli-Agustus 2026 mulai mengemuka. Agenda lima tahunan itu akan didahului oleh Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) pada April 2026.

Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, sebelumnya menyebut rangkaian tersebut sebagai momentum untuk “membuka lembaran baru” perjalanan organisasi.

Namun, tokoh muda NU Khalilur R Abdullah Sahlawiy menilai lembaran baru itu tidak akan bermakna jika tanpa disertai perubahan nilai, terutama terkait integritas kepemimpinan.


“Kalau hanya pergantian figur tanpa perubahan nilai, itu hanya pengulangan masalah lama dengan wajah baru,” ujar Khalilur dalam keterangannya, Kamis, 23 April 2026.

Muktamar NU tidak cukup dimaknai sebagai forum pergantian kepemimpinan, melainkan harus menjadi arena penentuan arah moral organisasi. Ia lantas mencetuskan prinsip Abuktor, akonim dari 'asal bukan koruptor' sebagai standar minimum dalam proses pemilihan kepemimpinan PBNU ke depan.

“Krisis kepercayaan terhadap PBNU saat ini nyata. Ini tidak bisa dilepaskan dari isu-isu integritas, termasuk dalam tata kelola haji,” jelasnya.

Khalilur menilai, terlepas dari proses hukum yang berjalan, polemik tersebut telah memengaruhi persepsi publik terhadap organisasi.

“Dalam konteks ini, kepemimpinan yang terindikasi atau terseret isu korupsi secara etis tidak memiliki dasar kuat untuk melanjutkan kepemimpinan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dinamika politik menjelang Muktamar yang mulai diwarnai konsolidasi kelompok tertentu, termasuk alumni organisasi kepemudaan. Nama-nama seperti Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid disebutnya sempat menyuarakan pentingnya peran alumni PMII dalam kepemimpinan PBNU.

Meski demikian, Khalilur berpandangan bahwa kepemimpinan NU tidak boleh dibatasi oleh latar belakang organisasi tertentu.

“Bukan soal dari mana asalnya, apakah PMII, HMI, GMNI, atau lainnya. Bahkan siapapun bisa, selama memenuhi syarat utama: integritas dan tidak pernah terlibat korupsi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar praktik politik uang tidak mewarnai Muktamar, termasuk penggunaan sumber daya untuk membeli dukungan. Muktamar NU 2026 harus menjadi momentum pemulihan kepercayaan publik sekaligus penegasan kembali nilai-nilai dasar organisasi.

“Yang paling penting sebelum bicara siapa yang memimpin adalah memastikan kepemimpinan itu bersih. Di situlah Abuktor menjadi syarat minimum,” tandasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya