Berita

Kolase foto RA Kartini dan Anne Frank. (Foto: Wikipedia)

Publika

Kala Perempuan Bersurat dan Menulis Diary

SELASA, 21 APRIL 2026 | 21:32 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

KITA pasti tak bisa membayangkan arti sebuah surat dan diary dari dua perempuan di usia sangat muda bisa membuat karya besar. 

Ibu RA Kartini mulai membaca di usia 12 tahun dan selanjutnya mulai menulis di usia 19 tahun, wafat di usia 25 tahun, hal sama dilakukan Anne Frank, membuat diary dimulai di usia 12 tahun hingga wafat di usia 15 tahun.

Surat Perempuan Jawa


Gerakan Perempuan di Indonesia, lahir ketika Ibu RA Kartini menuliskan 119 tulisan tangannya.

Surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon, seorang pejabat Belanda yang berkuasa dalam bidang pendidikan masa politik etis dengan judul Door Duisternis tot Licht. 

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh sastrawan pujangga baru Armijn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku berjudul "Max Havelaar" karangan Multatuli, adalah pemberi inspirasi, bagi Kartini seperti diuraikan dalam bukunya, dia akan mencari tahu, saya sangat menyukainya.

Dan dilanjutkan sebuah manifesto, "Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki."

Dia juga membaca buku "Wanita Modern" oleh Jeanette van Riemsdijk, juga "Hilda van Suylenburg" serta bertujuan untuk "Tujuan Gerakan Wanita", kembali membaca "Minnenbrieven", karya Multatuli.

Kartini juga mengutip karya puisi de Genestet dalam "Terugblik" begitu bermakna. Dulu kami merasa jiwa kami hampa, terus mencari sesuatu yang tak kami ketahui.

Wanita adalah pembawa peradaban. Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. 

Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. 

Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903. "Aku Mau ..." adalah motto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. 

Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. 

Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. 

Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Diary Seorang Anak Perempuan 


Sebuah Buku harian Anne Frank dipuji karena kelayakan sastranya. Mengomentari gaya penulisan Anne Frank, dramawan Meyer Levin memuji Frank karena mampu "mempertahankan ketegangan selayaknya novel yang ditulis dengan baik", dan sangat terkesan dengan kualitas karya Anne, sehingga ia berkolaborasi dengan Otto Frank dalam mendramatisasi buku harian tak lama setelah diterbitkan.

Meyer menjadi terobsesi dengan Anne Frank, yang ia tulis dalam buku autobiografinya, The Obsession. 

Penyair John Berryman menyebut buku harian sebagai gambaran yang unik, tidak hanya membahas masa remaja tetapi juga "peralihan seorang anak menjadi pribadi yang tepat, percaya diri, gaya ekonomis yang menakjubkan dalam kejujurannya".

Dalam pengantar untuk buku harian edisi pertama Amerika, Eleanor Roosevelt menggambarkan buku harian sebagai "salah satu komentar paling bijaksana dan paling mengharukan tentang perang dan dampaknya terhadap manusia yang pernah saya baca."

John F. Kennedy membahas Anne Frank dalam pidatonya tahun 1961, dan berkata, "Dari banyak orang yang di sepanjang sejarah telah berbicara mengenai martabat manusia pada masa penderitaan dan kehilangan, tidak ada suara yang lebih menarik dibandingkan dengan Anne Frank." 

Pada tahun yang sama, penulis Soviet, Ilya Ehrenburg menulis: "satu suara berbicara untuk enam juta orang suara yang bukan dari orang bijak atau penyair, tetapi suara seorang gadis kecil biasa."

Setelah citra Anne baik sebagai penulis maupun sebagai humanis tumbuh, ia dianggap secara khusus sebagai simbol Holocaust dan lebih luas lagi sebagai perwakilan atas penyiksaan orang-orang Yahudi.

Hillary Rodham Clinton, dalam pidatonya di perayaan Elie Wiesel Humanitarian Award pada tahun 1994, mengutip kata-kata dalam buku harian Anne dan berbicara mengenai Anne yang telah "membangunkan kita dari kebodohan, ketidakpedulian, dan hal-hal mengerikan yang terjadi pada anak muda," yang ia kaitkan dengan kejadian kontemporer yang sedang terjadi di Sarajevo, Somalia, dan Rwanda.

Setelah menerima penghargaan humaniter dari Anne Frank Foundation pada tahun 1994, Nelson Mandela berbicara pada kerumunan orang di Johannesburg, berkata ia telah membaca buku harian Anne Frank ketika di penjara dan "mendapatkan banyak dorongan dari buku tersebut". 

Ia menyamakan perjuangan Anne dalam melawan Nazisme dengan perjuangannya dalam melawan apartheid, menciptakan paralel di antara dua filosofi: "Karena keyakinan seperti ini terbukti salah, dan karena mereka, dan akan selalu ditantang oleh orang-orang seperti Anne Frank".

Juga pada tahun 1994, Václav Havel berkata "warisan Anne Frank sangat hidup dan mampu menegur kita sepenuhnya", dalam kaitannya dengan perubahan sosial dan politik yang terjadi pada saat itu di bekas negara-negara Blok Timur.

Primo Levi berpendapat Anne Frank sering dianggap sebagai satu-satunya tokoh yang mewakili jutaan orang yang menderita dan tewas seperti dirinya karena "Seorang Anne Frank menggerakkan kita lebih dari orang lain yang tak terhitung jumlahnya yang menderita seperti dirinya namun wajah orang-orang tersebut tidak bisa dibayangkan". 

Mungkin lebih baik seperti itu; jika kita merasakan penderitaan semua orang-orang tersebut, kita tak akan bisa hidup. 

Dalam pesan penutupnya untuk biografi Anne Frank karya Müller, Miep Gies mengungkapkan pemikiran yang sama, meskipun ia berupaya menghilangkan kesalahpahaman orang-orang yang menganggap "Anne menyimbolkan enam juta korban Holocaust". 

Ia menulis: "Kehidupan dan kematian Anne adalah takdirnya sendiri, takdir yang terjadi enam juta kali lipat. Anne tidak bisa, dan tidak harus, berdiri bagi banyak orang yang hidupnya telah dirampas oleh Nazi ... Tetapi takdirnya membantu kita memahami kerugian besar yang diderita dunia karena Holocaust."

Otto Frank menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga peninggalan putrinya. Ia berkata, "Ini peran yang aneh. Dalam hubungan keluarga yang normal, anaklah yang seharusnya memiliki beban untuk menjaga dan melanjutkan tugas orang tua. Dalam kasusku peran tersebut terbalik." 

Ia menyebut penerbitnya pernah menjelaskan kenapa buku harian putrinya dibaca oleh begitu banyak orang: "ia berkata bahwa buku harian tersebut mencakup banyak bidang kehidupan yang bisa menggerakkan pembaca secara pribadi". 

Simon Wiesenthal mengungkapkan sentimen serupa, berkata bahwa buku harian Anne telah meningkatkan kesadaran yang lebih luas mengenai Holocaust daripada yang telah dicapai dalam Peradilan Nuremberg, karena "orang-orang merasa lekat dengan anak ini. 

Ini adalah dampak Holocaust, ini adalah keluarga seperti keluarga saya, seperti keluarga Anda, sehingga Anda bisa memahami hal ini."

Pada bulan Juni 1999, majalah Time menerbitkan edisi khusus berjudul "Time 100: The Most Important People of the Century". Anne Frank dipilih sebagai salah satu sosok "Pahlawan & Icon".

Dunia kini, masih membutuhkan kedua perempuan ini. Kartini dan Anne Frank. 

Dunia ternyata masih menantikan inspirasi yang bisa menjawab tentang kehidupan manusia yang lebih damai dan bersatu serta bebas dari kemiskinan, peperangan, penjajahan.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Pasar Minyak Wait and See Situasi Terkini Hormuz

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:14

Kedekatan dengan Megawati Menguntungkan Pemerintahan Prabowo

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:04

Telur Jatuh di Bawah Harga Impas, BGN Turun Tangan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:51

Kebakaran Hebat di Kemayoran Ludeskan 250 Rumah

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:38

Video Parade ALF di Perbatasan Aljazair Jadi Sorotan Internasional

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:32

Anies Angkat Topi untuk Dino Patti Djalal: Bukan Diplomat Karbitan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:31

IHSG Loncat 1,35 Persen, Rupiah Tertekan Pagi Ini di Rp17.888 per Dolar AS

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26

Iran Ancam Hentikan Negosiasi Jika Israel Terus Serang Lebanon

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09

Wildan Hakim: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Peristiwa yang Natural

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58

GREAT Institute: Shangri-La Dialogue Krusial untuk Navigasi Ketidakpastian Geopolitik

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya