Berita

Komisaris PT Pelindo Arief Poyuono. (Foto: RMOL)

Politik

Arief Poyuono: Danantara Bukan Sovereign Risk tapi Senjata Ekonomi

SELASA, 21 APRIL 2026 | 21:33 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kehadiran Danantara bukan sumber risiko kedaulatan (sovereign risk), melainkan langkah strategis pemerintah memperkuat sistem perekonomian nasional.

"Danantara bukan sovereign risk. Ini jawaban strategis paling koheren Indonesia untuk mengelola risiko tersebut,” tegas Komisaris PT Pelindo Arief Poyuono dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 21 April 2026.

Ia menilai, kritik terhadap Danantara merupakan hal yang lazim dalam dinamika ekonomi global. Transformasi besar di negara berkembang, kata dia, kerap lebih dulu disambut skeptisisme sebelum dipahami secara utuh.


“Kehati-hatian itu wajar. Tapi penilaian harus berbasis desain institusi, tujuan kebijakan, dan hasil awal, bukan sekadar asumsi,” ujarnya.

Arief menekankan, Danantara bukan kebijakan reaktif, melainkan strategi yang dirancang matang di tengah kebutuhan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Diskursus yang tepat bukan soal ada tidaknya risiko, melainkan apakah Danantara menjadi mekanisme terbaik untuk mengelola risiko tersebut.

“Pertanyaannya, apakah ini mekanisme terbaik? Saya yakin jawabannya ya,” katanya.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa risiko kedaulatan umumnya bersumber dari ketidakstabilan fiskal, kebijakan yang tidak konsisten, serta lemahnya institusi. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak mencerminkan Indonesia saat ini.

“Rasio utang terhadap PDB masih di bawah 40 persen, defisit fiskal terkendali, dan fondasi makroekonomi kita terbukti kuat,” paparnya.

Danantara juga tidak menambah beban baru bagi negara, melainkan mengoptimalkan aset yang sudah ada. Sebelum Danantara hadir, kata dia, kondisi BUMN terfragmentasi dan kurang efisien karena negara merangkap sebagai regulator, operator, sekaligus pemegang saham.

“Situasi itu memicu inefisiensi dan alokasi modal yang tidak optimal,” jelasnya.

Dengan Danantara, lanjut dia, terjadi pemisahan peran yang lebih jelas antara negara sebagai regulator, lembaga pengelola dana sebagai pengalokasi modal, dan BUMN sebagai entitas bisnis.

“Pemisahan ini mulai menunjukkan hasil, dari percepatan restrukturisasi hingga konsolidasi yang lebih efektif,” katanya.

Terkait kekhawatiran intervensi politik, Arief menilai justru terjadi pergeseran menuju disiplin korporasi yang lebih kuat. Dalam hal transparansi, ia mengakui pentingnya pengawasan publik, namun menegaskan proses tersebut berjalan bertahap.

“Transparansi tidak bisa instan. Ini berkembang seiring kematangan institusi,” katanya.

Arief menyebut Danantara telah menerapkan audit independen, kewajiban pelaporan, serta komunikasi investor yang mengacu pada standar global seperti Santiago Principles.

Ia juga menepis anggapan bahwa Danantara akan menghambat investasi swasta. Sebaliknya, instrumen ini dinilai mampu mendorong masuknya investasi.

“Danantara tidak menggantikan swasta, tapi memfasilitasi. Masuk ke sektor berisiko tinggi untuk mengurangi ketidakpastian awal,” jelasnya.

Dalam proses restrukturisasi BUMN, Arief menegaskan akan ada selektivitas dalam penyaluran dukungan. Langkah ini akan memperkuat disiplin, meningkatkan kapasitas fiskal, serta membangun kepercayaan investor.

Di akhir pernyataannya, Arief menegaskan Danantara merupakan taruhan strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia.

“Risiko pasti ada, tapi yang lebih berbahaya adalah jika kita tidak melakukan apa-apa,” pungkasnya.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya