Berita

Ilustrasi Salju Abadi Puncak Jaya (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Salju Abadi Puncak Jaya Terancam Punah, ini Asal-usul dan Penyebabnya

MINGGU, 19 APRIL 2026 | 11:02 WIB | OLEH: TIFANI

Indonesia merupakan negara tropis dengan suhu hangat sepanjang tahun. Namun terdapat fenomena alam langka berupa salju abadi di ujung timur Nusantara, tepatnya di Pegunungan Jayawijaya, Papua. 

Fenomena ini berada pada ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut, Puncak Jaya atau yang dikenal sebagai Carstensz Pyramid. Pada ketinggian ekstrem tersebut, suhu udara bisa cukup dingin untuk memungkinkan terbentuknya es dan salju, meskipun wilayah di sekitarnya beriklim tropis.

Salju di Puncak Jaya terbentuk melalui proses alami yang berlangsung selama ribuan tahun. Faktor utama yang memungkinkan keberadaannya adalah ketinggian pegunungan yang membuat suhu udara turun hingga di bawah titik beku. 


Dalam kondisi ini, uap air di atmosfer membeku menjadi salju, kemudian menumpuk dan mengalami pemadatan hingga membentuk gletser. Berbeda dengan salju musiman di negara empat musim, salju di Puncak Jaya bersifat permanen atau dikenal sebagai perennial snow. 

Fenomena ini yang kemudian disebut sebagai “salju abadi”. Kawasan ini bahkan pernah memiliki beberapa gletser besar, termasuk Gletser Meren yang menjadi salah satu gletser terbesar di wilayah tropis.

Keberadaan salju di wilayah tropis tergolong sangat langka. Puncak Jaya menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang masih memiliki gletser di dekat garis khatulistiwa, sehingga kerap disebut sebagai anomali geografis.

Sejarah penemuan Puncak Jaya bermula pada 1623. Seorang pelaut Belanda bernama Jan Carstensz menjadi orang Eropa pertama yang melihat gunung ini dari kejauhan saat melakukan pelayaran. 

Ia mengklaim bahwa puncak tersebut tertutup salju, namun pernyataan itu sempat dianggap mustahil oleh masyarakat Eropa karena lokasinya berada di wilayah tropis. Klaim tersebut baru terbukti pada awal abad ke-20. 

Pada 1909, ekspedisi yang dipimpin Hendrik A. Lorentz berhasil mencapai kawasan salju di Puncak Jaya. Sementara itu, pendakian pertama ke puncaknya dilakukan pada 1962 oleh tim yang dipimpin Heinrich Harrer. 

Pada masa lalu, luas hamparan es di kawasan ini mencapai ribuan hektare. Bahkan tahun 1992, area salju diperkirakan mencapai sekitar 3.300 hektare. 

Salju abadi di Puncak Jaya saat ini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa ketebalan dan luas gletser mengalami penyusutan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Mengutip laporan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), pemantauan hingga akhir 2024 menunjukkan luas tutupan es di kawasan Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, menyusut sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi dari total 0,23 kilometer persegi pada 2022.

Secara global, laporan juga mencatat bahwa gletser di seluruh dunia kehilangan massa sekitar 408 gigaton sepanjang 2025. Angka tersebut menjadikan 2025 sebagai salah satu periode dengan kehilangan gletser terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1975.

Pakar hidrometeorologi dan klimatologi lingkungan Fakultas Geografi UGM, Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa penyusutan gletser terjadi di berbagai belahan dunia, baik di wilayah utara maupun selatan. Fenomena serupa juga terjadi di wilayah tropis seperti Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia.

Menurut Emilya, radiasi matahari gelombang pendek menjadi sumber energi utama dalam sistem iklim bumi. Permukaan bumi akan menyerap atau memantulkan energi tersebut, tergantung pada jenis penutup lahannya, seperti hutan, air, beton, maupun es.

“Penurunan albedo membuat energi radiasi menumpuk di atmosfer sehingga mempercepat pencairan gletser,” ujar Emilya, dikutip dari laman UGM, Minggu (19/4/2026).

Gletser memiliki nilai albedo tinggi sehingga mampu memantulkan sebagian besar radiasi matahari dan menjaga kestabilannya. Namun, penurunan albedo akibat perubahan penggunaan lahan secara masif menyebabkan lebih banyak energi panas terperangkap di atmosfer. 

Kondisi ini mempercepat pemanasan global sekaligus mempercepat pencairan gletser, termasuk salju abadi di Puncak Jaya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya