Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Simulasi Kekuasaan dalam Drama Cina

JUMAT, 17 APRIL 2026 | 04:08 WIB

DI berbagai platform seperti iQIYI, Tencent Video, dan Youku, satu pola terus berulang dalam drama Cina: seorang tokoh yang berasal dari kondisi rendah--miskin, tertindas, atau tidak dianggap tiba-tiba berada di puncak kekuasaan sebagai CEO atau pengendali sistem bisnis besar.

Sekilas, ini tampak seperti formula hiburan yang mudah ditebak. Namun jika dibaca secara operasional, pola ini sebenarnya adalah sebuah simulasi yang sangat presisi: apa yang benar-benar terjadi ketika seseorang yang tidak memiliki apa-apa, mendadak diberi kekuasaan dalam skala besar? Jawabannya tidak romantis.

Yang muncul bukan kebebasan, melainkan tekanan. Bukan kenyamanan, melainkan tuntutan untuk bertahan hidup di dalam sistem yang tidak memberi ruang kesalahan. Dalam posisi tersebut, setiap keputusan memiliki konsekuensi langsung. Tidak ada waktu untuk belajar perlahan. Tidak ada ruang untuk ragu terlalu lama.


Tokoh utama dipaksa memahami struktur yang sebelumnya tidak pernah ia kenal: relasi kekuasaan, konflik kepentingan, loyalitas yang rapuh, serta hukum-hukum tidak tertulis yang justru lebih menentukan daripada aturan formal. Tanpa pemahaman ini, kekuasaan yang ia miliki justru berubah menjadi alat penghancur dirinya sendiri.

Di saat yang sama, ia harus mengambil keputusan dalam tekanan tinggi. Satu keputusan yang tampak kecil dapat memicu rangkaian dampak yang meluas. Kesalahan tidak berhenti pada dirinya, tetapi merambat ke organisasi, keuangan, bahkan keselamatan. Dalam posisi ini, tidak ada keputusan yang benar-benar ringan.

Namun faktor paling menentukan justru ada di dalam dirinya sendiri. Banyak alur memperlihatkan bahwa kegagalan bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan, melainkan ketidakmampuan mengendalikan dorongan internal--emosi, ego, reaksi spontan, atau kebutuhan untuk membalas. Dalam kondisi kekuasaan tinggi, reaksi yang tidak terkendali selalu berujung pada kerugian yang terukur.

Di sinilah kontras dengan realitas sehari-hari menjadi jelas. Sebagian besar orang berada di luar struktur kekuasaan, namun dengan mudah memberikan penilaian terhadap mereka yang berada di dalamnya. Kritik, hujatan, dan penilaian moral sering muncul tanpa pemahaman tentang beban operasional yang sebenarnya harus ditanggung.

Drama Cina justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Kekuasaan bukan sekadar hak untuk mengatur, tetapi kewajiban untuk terus-menerus mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak pernah ideal. Bukan posisi untuk dinikmati, tetapi ruang ujian yang tidak pernah berhenti.

Tokoh utama dalam cerita-cerita ini jarang benar-benar “menang” dalam arti sederhana. Yang mereka lakukan adalah bertahan, menyesuaikan diri, dan terus mengambil keputusan sambil menanggung seluruh akibatnya. Mereka tidak bergerak dalam kepastian, tetapi dalam risiko yang terus berubah.

Dari sini, satu hal menjadi jelas: kekuasaan besar tidak memperbesar kebebasan, tetapi memperbesar konsekuensi.

Dan melalui pola yang terus diulang, drama Cina sebenarnya sedang menyampaikan satu pelajaran yang sangat konkret--bahwa tanpa pengetahuan yang cukup, kejernihan dalam mengambil keputusan, dan stabilitas internal, kekuasaan bukanlah sesuatu yang mengangkat seseorang, melainkan sesuatu yang dapat dengan cepat menghancurkannya.

Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub
 

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya