Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Klaim Iran dan Teori Bulan Sabit Syiah

RABU, 15 APRIL 2026 | 04:45 WIB

PERANG antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum sepenuhnya mereda meskipun kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata (ceasefire) selama dua pekan ke depan. Frasa perdamaian pun tampaknya masih cukup jauh untuk dicapai mengingat pertemuan di Islamabad yang dimediasi oleh Pakistan pada 11 April kemarin berujung jalan buntu di antara kedua belah pihak. 

Akan tetapi, menilik secara cermat jalannya peperangan yang sudah berlangsung lebih dari 40 hari, Iran memiliki modal geopolitik dan geoekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan AS untuk memenangkan peperangan. Jika AS benar-benar mampu dipukul mundur dari kawasan, maka bulan sabit Syiah--sebutan Poros Syiah di Timur Tengah yang dipimpin Iran, akan bermetamorfosis sempurna menjadi bulan purnama Syiah di kawasan.

Sebutan bulan sabit Syiah pertama kali diutarakan oleh Raja Abdullah dari Yordania pada 2004 untuk menyebut poros ideologis Syiah yang membentang dari Beirut Lebanon hingga Teluk Persia. Sedangkan dalam terminologi geopolitik modern, bulan sabit Syiah merujuk pada beberapa negara di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Syiah atau yang memiliki minoritas Syiah yang kuat dalam populasinya. Negara-negara tersebut antara lain Iran, Irak, Lebanon, Suriah, serta Yaman. Dikarenakan kekuatan militernya yang mumpuni, serta disinyalir sebagai episentrum dari semua kekuatan politik militer Syiah di kawasan, Iran dipandang sebagai poros dan pemimpin bulan sabit Syiah di Timur Tengah.


Poros Syiah anti-Zionis dan Barat

Sebutan sinikal yang diutarakan Raja Abdullah terhadap poros Syiah Timur Tengah yang dipimpin Iran merupakan gambaran secara implisit kekhawatiran bahkan ketakutan negara-negara Timur Tengah pro-AS dan Israel di kawasan. Propaganda Sunni versus Syiah yang terus dikobarkan AS dan Zionis membuat soliditas kawasan Timur Tengah menjadi semakin rentan. Mereka yang berbasis Syiah sebagai agama dan ideologi dianggap sebagai parasit dan ancaman terhadap negara-negara kawasan yang mayoritas memeluk aliran Sunni. 

Friksi semakin runcing karena poros Syiah yang dipimpin oleh Iran tidak segan-segan menunjukkan sikap anti-Zionis Israel dan anti-Barat karena dianggap sebagai pemecah belah soliditas negara-negara kawasan Timur Tengah, bahkan soliditas Islam dalam bingkai yang lebih besar.

Manifestasi sikap anti-Zionis dan anti-Barat dari negara-negara Syiah kawasan adalah dukungan yang nyata terhadap perjuangan Hamas dalam merebut kemerdekaan dan kedaulatan wilayah yang diambil secara paksa oleh penjajah Israel sejak 1948. Meskipun Iran kerap tidak mengakui bahwa mereka berada di balik gerakan-gerakan milisi Timur Tengah anti-Zionis seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Brigade Darah dan Ketaeb Hizbullah di Irak, AS dan Zionis Israel telah menganggap dan menempatkan Iran sebagai simpul dari semua perlawanan terhadap AS dan Israel di Timur Tengah. 

Kebencian terhadap Iran semakin meluap karena negara yang berbasis teologi Islam dan dipimpin oleh rezim Mullah ini diyakini mengembangkan senjata nuklir yang dapat merubah perimbangan kekuatan militer di kawasan. Kiranya inilah yang menjadi motif utama, baik bagi AS maupun Israel untuk melakukan serangan militer ke Iran pada 28 Februari silam.

Spektrum Pengaruh yang Kian Membesar

Kini, setelah perang antara AS-Israel dan Iran telah meletus dan berkecamuk selama lebih dari satu bulan lamanya, pengaruh dan kekuasaan Iran di Timur Tengah diproyeksikan akan semakin membesar, menjadi poros kekuatan yang diperhitungkan bahkan ditakuti oleh negara-negara Arab pro-AS. Basis argumentasinya sederhana; AS tidak mampu menumbangkan rezim Mullah di Iran dan AS gagal untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran secara total. 

Meskipun serangan militer brutal pada 28 Februari lalu mampu menewaskan secara keji Ayatullah Ruhullah Ali Khamenei, tapi tampuk kepemimpinan di Iran dengan cepat berganti yang menandakan kuatnya kaderisasi pada rezim yang berkuasa. Di sisi lain, meskipun fasilitas militer berhasil dihancurkan, akan tetapi Iran diyakini masih memiliki kapasitas untuk mengembangkan senjata nuklir hanya dalam tempo singkat. Iran adalah bangsa cerdik yang tidak dengan mudah membiarkan cadangan uraniumnya dicuri dan dihancurkan oleh musuh.

Buntunya perundingan yang berlangsung di Islamabad pada 11 April kemarin secara eksplisit menunjukkan kuatnya bargaining position yang dimiliki oleh Iran. Sementara itu, bagi AS, gencatan senjata selama dua pekan adalah momen untuk menghirup kembali udara segar setelah melalui peperangan berlarut yang telah menguras tenaga, logistik, dan finansial. AS sejatinya telah kehabisan nafas untuk melanjutkan peperangan. 

AS kalah secara logika geopolitik, motif, dan bahkan taktik peperangan. Sebaliknya, Iran menunjukkan kematangan dan kemapanan berperang sebagai bangsa dengan usia lebih dari 2.000 tahun. Iran secara ciamik memainkan mode perang simetris, asimetris, atrisi, berlarut, dan resiliensi dalam satu tarikan nafas sekaligus.

Wibawa Iran di Timur Tengah

Terlepas dari resultante peperangan nantinya, apa yang dipertontonkan oleh Iran selama lebih dari 40 hari lamanya berperang melawan AS dan Israel akan semakin mempertebal marwah, kehormatan, dan pengaruh Iran terhadap poros bulan sabit Syiah yang ia pimpin. Tekanan kepada AS agar Israel turut mematuhi gencatan senjata dan tidak menyerang Lebanon menunjukkan karakter kepemimpinan Iran yang kuat terhadap poros yang ia pimpin. 

Luka bagi Lebanon adalah luka bagi sekujur tubuh Iran. Iran tak akan pernah membiarkan penjajah Israel meluluhlantakkan kekuatan yang sejatinya tidak sepadan untuk mereka perangi. Di mata negara-negara kawasan, terutama negara-negara Arab Sunni pro-AS, apa yang dipertontonkan Iran dengan memangku Lebanon sebagai sekutu yang tidak akan pernah mereka tinggalkan akan semakin memperkuat wibawa dan pengaruh Iran di kawasan. Jika AS berhasil mundur dari palagan peperangan dan rezim Mullah masih bertahta, rasa-rasanya tak berlebihan jika bulan sabit itu telah menjelma menjadi bulan purnama yang terang-benderang di Jazirah Timur Tengah.


Boy Anugerah
Alumnus Taplai Diplomat Lemhannas RI-Kemenlu RI 2016 & Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

 

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya