Berita

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. (Foto: PPID DKI)

Publika

Jakarta Perlu Terapkan Waste To Energy seperti Swedia

SELASA, 14 APRIL 2026 | 20:18 WIB

PEMPROV DKI Jakarta perlu segera menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) guna mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.

Negara maju seperti Swedia telah membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber energi dan ekonomi yang berkelanjutan.

Swedia terungkap mampu mengolah lebih dari 99 persen sampahnya, bahkan sebagian diolah menjadi energi listrik dan panas untuk kebutuhan masyarakat. 


Hal ini menunjukkan bahwa sampah di Swedia bukan lagi beban, melainkan sumber daya mumpuni.

Swedia tercatat memiliki lebih dari 30 fasilitas WTE yang terintegrasi dengan sistem pemanas distrik (district heating), sehingga mampu menghasilkan energi sekitar 19,5 TWh per tahun untuk kebutuhan listrik dan pemanas jutaan rumah tangga. 

Keberhasilan Swedia tersebut tidak lepas dari investasi besar dan konsisten dalam infrastruktur pengolahan sampah serta dukungan regulasi yang kuat sejak puluhan tahun lalu.

Model pengelolaan sampah Swedia ini harus menjadi referensi bagi Jakarta. 

Investasi memang besar di awal, tetapi manfaat jangka panjangnya jauh lebih signifikan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi, bukan lagi bicara Refuse Derived Fuel (RDF) atau  Intermediate Treatment Facility (ITF).

Penerapan WTE dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang sudah over capacity.

Hal ini sekaligus menekan dampak lingkungan seperti pencemaran tanah, air, dan emisi gas rumah kaca.

Selain itu, dari sisi bisnis, pengelolaan sampah berbasis WTE membuka peluang ekonomi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga produksi energi.

Dalam konsep ekonomi sirkular, sampah memiliki nilai ekonomi. Tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong industri daur ulang, dan meningkatkan efisiensi sistem persampahan. 

Proyek WTE juga memiliki prospek keuntungan yang menjanjikan. Berdasarkan berbagai kajian, investasi di sektor ini dapat mencapai titik impas dalam waktu tujuh hingga delapan tahun dengan potensi keuntungan yang stabil setiap tahun setelahnya. 

Namun demikian, penting penguatan regulasi sebagai fondasi utama keberhasilan program tersebut. 

Salah satunya melalui penerapan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen bertanggung jawab terhadap limbah kemasan yang dihasilkan.

Dengan EPR nantinya produsen ikut menanggung biaya pengelolaan sampah. Ini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 

Pemprov DKI Jakarta diharapkan untuk memperkuat peran Badan Layanan Umum  Daerah (BLUD) di sektor persampahan agar pengelolaan sampah lebih terintegrasi dan profesional.

BLUD persampahan harus menjadi motor penggerak, baik dalam operasional, investasi, maupun kerja sama dengan pihak swasta. 

Sebab, tanpa kelembagaan yang kuat, WTE hanya akan menjadi proyek, bukan solusi jangka panjang.

Untuk merealisasikanya, Eksekutif dan Legislatif di Jakarta bisa segera melakukan studi banding ke Swedia dengan mengajak pakar persampahan di Jakarta atau Indonesia.

Hasil studi banding itu harus bisa segera dirumuskan dalam langkah konkret. Sebab, persoalan sampah di Jakarta sudah mendesak dicarikan solusi.

Dengan penerapan WTE yang didukung regulasi dan kelembagaan yang tepat, Jakarta tidak hanya mampu mengatasi persoalan sampah, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber energi dan pendapatan daerah yang berkelanjutan.

Pemerintah pusat melalui Danantara diharapkan bisa menyokong kebutuhan investasi WTE ini. 

Kemudian, PT PLN juga harus dapat berkolaborasi dengan baik agar listrik yang dihasilkan fasilitas WTE di Jakarta nantinya dapat digunakan, tidak boleh ada ego sektoral. 

Tinggal mencari business to business agar semua diuntungkan.


Victor Irianto Napitupulu
Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD)

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya