Berita

Sutrisno Iwantono (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube NTV)

Bisnis

Di Balik Stabilitas Ekonomi, Dunia Usaha Mulai Berhati-hati

SELASA, 14 APRIL 2026 | 08:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah berbagai kekhawatiran soal kondisi global, pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Namun jika melihat lebih dekat ke lapangan, pelaku usaha justru mulai menunjukkan sikap yang jauh lebih hati-hati.

Ketua Kebijakan Publik APINDO, Sutrisno Iwantono, menggambarkan situasi saat ini sebagai fase “menunggu kepastian”.

Menurutnya, dunia usaha belum melihat adanya sinyal yang cukup kuat untuk bergerak agresif. Ketidakpastian global -- mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga energi -- membuat banyak perusahaan memilih strategi bertahan.


“Pelaku usaha menunggu sampai ada kepastian yang memberikan kenyamanan untuk bergerak,” urainya dalam sebuah podcast, dikutip redaksi di Jakarta, Selasa 14 April 2026.

Sikap wait and see ini bukan tanpa alasan. Meski secara makro ekonomi Indonesia masih terlihat stabil, dampak di tingkat mikro sudah mulai terasa.

Sutrisno menekankan bahwa tekanan sebenarnya sudah dirasakan pelaku usaha, terutama di sektor-sektor yang terhubung langsung dengan pasar global.

Industri manufaktur berbasis ekspor menjadi salah satu yang paling terpukul. Gangguan rantai pasok, penurunan permintaan global, serta kenaikan biaya produksi menjadi kombinasi tekanan yang sulit dihindari.

Selain itu, sektor properti juga mulai menunjukkan pelemahan, seiring dengan menurunnya daya dorong investasi.

Namun, katanya, tidak semua sektor berada dalam tekanan yang sama. Ada beberapa bidang yang justru relatif lebih tangguh menghadapi gejolak ini, seperti sektor Kesehatan, kebutuhan pokok, layanan publik, dan ekonomi digital.

Sektor-sektor ini dinilai memiliki permintaan yang lebih stabil, sehingga mampu bertahan di tengah ketidakpastian.

Dampak lain yang mulai terlihat adalah pada pasar tenaga kerja. Sutrisno mengakui bahwa tekanan sudah mulai terasa, meskipun belum sampai pada gelombang PHK besar-besaran.

Alih-alih melakukan pemutusan hubungan kerja secara masif, banyak perusahaan memilih langkah yang lebih moderat, seperti mengurangi jam kerja, mendorong karyawan untuk multitasking, dan menahan perekrutan tenaga kerja baru.

Strategi ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi dan keberlangsungan bisnis.

“Rekrutmen melambat karena investasi belum berkembang,” jelasnya.

Dalam situasi seperti ini, Sutrisno juga menyoroti pentingnya keseimbangan dalam kebijakan ketenagakerjaan.

Ia menegaskan bahwa perlindungan tenaga kerja memang penting, tetapi regulasi yang terlalu ketat justru bisa menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha.

Jika tekanan biaya semakin besar, bukan tidak mungkin perusahaan akan mencari alternatif efisiensi lain -- termasuk beralih ke otomatisasi.

Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan dan robotik bisa menjadi pilihan jika biaya tenaga kerja dianggap tidak lagi kompetitif.

Karena itu, ia menekankan perlunya kebijakan yang harmonis seperti tetap melindungi pekerja namun tidak menghambat fleksibilitas dunia usaha.

Pandangan Sutrisno memberikan perspektif penting: stabilitas ekonomi secara makro tidak selalu mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Di satu sisi, indikator nasional masih terlihat aman. Namun di sisi lain, pelaku usaha sudah mulai mengerem aktivitasnya.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa kewaspadaan perlu dijaga. Jika ketidakpastian global terus berlanjut, tekanan yang saat ini masih “tertahan” bisa saja mulai terasa lebih luas -- baik bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya