Berita

Analis komunikasi politik Hendri Satrio. (Foto: Istimewa)

Politik

Publik Jangan Samakan Analisis Pengamat Seperti Horoskop

SENIN, 13 APRIL 2026 | 10:23 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyatakan seharusnya analisis dan pendapat pengamat tidak diperlakukan layaknya horoskop yang hanya dipercaya jika isinya terasa menyenangkan.

Menurut sosok yang akrab disapa Hensa itu, analisis pengamat tidak seperti horoskop yang memang sejak awal tidak dirancang untuk diverifikasi karena tidak berpijak pada fakta yang dapat diuji.

"Menurut saya, bedakan antara analisa pengamat dengan horoskop, kalau horoskop ya sudah dibaca saja, mau baik, mau benar, semuanya tuh enggak perlu terlalu dipercaya karena tak ada data pasti," ujar Hensa kepada wartawan, Senin, 13 April 2026.


Berbeda dengan horoskop, Hensa mengatakan analisis dan pendapat seorang pengamat lahir dari proses pengumpulan data, pembacaan situasi, dan penilaian terhadap variabel-variabel yang ada.

Karena itu, menurutnya, nilai sebuah analisis tidak seharusnya diukur semata dari apakah prediksinya terbukti benar atau tidak di kemudian hari.

"Analisis dan pendapat pengamat itu, kalau pun enggak kejadian perkataannya, pada dasarnya itu sudah menggunakan data," katanya.

Di sisi lain, founder lembaga survei KedaiKOPI itu menyayangkan kecenderungan masyarakat yang memperlakukan analisis dan pendapat pengamat secara selektif dan reaktif.

Alih-alih menjadikannya bahan telaah, menurutnya, publik kerap kali hanya merespons itu berdasarkan apakah isi analisis tersebut sesuai dengan keinginan atau ekspektasi mereka.

"Sayangnya, terkadang orang tuh mendengarkan analisa pengamat seperti baca horoskop, kalau gak bagus ya gak dipercaya, dirobek-robek, kalau bagus dibilang 'wah ini bener ini pengamat'," ujar Hensa.

"Nah, menurut saya seharusnya enggak usah begitu, jadi pernyataan pengamat itu ya dibaca saja sebagai analisa dan pendapat, dan baik buruknya justru harus dikaji oleh semua pihak, termasuk pemerintah," tegasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya