Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar (Foto: Istimewa)
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, sektor distribusi pangan domestik mulai merasakan tekanan.
Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar, mengungkapkan bahwa bayang-bayang kenaikan harga solar akibat isu perang telah memicu langkah antisipatif dari para pelaku usaha logistik untuk menaikkan tarif pengiriman.
Meskipun pemerintah belum secara resmi menaikkan harga BBM subsidi, keresahan di tingkat penyedia jasa transportasi sudah mulai berdampak pada biaya distribusi di lapangan.
"Saat INKOPPAS berdiskusi dengan Menko Pangan bahwa harga solar belum naik, cuman isu perang membuat para pengusaha logistik bersiap-siap menaikan harga. Jadi mereka sudah ada yang menaikan harga sekarang untuk transportasi dan untuk logistik itu yang agak berat," ungkap Andrian di Jakarta, dikutip Jumat 10 April 2026.
Lonjakan ini terlihat nyata pada pengiriman komoditas krusial seperti minyak goreng.
Jalur Jakarta yang biasanya dibanderol Rp900 ribu-Rp1,1 juta, kini membengkak menjadi Rp1,3 juta- Rp1,5 juta per mobil.
Andrian kemudian menegaskan bahwa dibandingkan isu kelangkaan plastik, kenaikan biaya transportasi menjadi ancaman struktural yang sulit dihindari.
Tekanan semakin berlapis dengan nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp17.000. Andrian memetakan dampak risiko secara jernih
Bahan pangan lokal, menurutnya, tetap stabil selama swasembada terjaga. Sedangkan komoditas impor seperti bawang putih, daging, dan gula rafinasi berada di zona merah atau sektor yang rentan akibat ketergantungan pada Dolar AS.
Guna meredam dampak kenaikan biaya tersebut, INKOPPAS tidak tinggal diam. Mereka tengah mendorong dua langkah strategis bersama pemerintah yaitu subsidi logistik dan tol laut.
Pada pertemuan 14 April mendatang, INKOPPAS akan mendesak reaktivasi program tol laut dan subsidi transportasi khusus pangan untuk memotong rantai biaya yang membebani pedagang.
Akselerasi revitalisasi 13.000 pasar rakyat juga akan terus digenjot. Saat ini, 6 pasar telah ditangani Kementerian PU, sementara sisanya dikelola melalui skema BOT (Build-Operate-Transfer) mandiri oleh INKOPPAS dan BUMD.
Andrian optimistis bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, peran koperasi akan dipulihkan sebagai pilar ekonomi bangsa yang tangguh menghadapi guncangan eksternal.
"Presiden kita Prabowo Subianto sekarang sangat bapak koperasi banget, bapak koperasi ala modern. Kita harapkan dengan adanya bantuan dan program pemerintah, semua induk koperasi dimajukan untuk meningkatkan dan menyejahterakan anggotanya," pungkasnya.