Berita

Bendera Iran dan Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

Publika

Nuklir Jadi Hambatan Utama Iran Mau Damai dengan AS

JUMAT, 10 APRIL 2026 | 06:20 WIB

MARI lanjut cerita gencatan senjata dua minggu, Iran vs Amerika. Banyak prediksi, damai sulit dicapai, alias ambyar. Iran ngotot nuklir, Paman Sam, no nuclear

Kalau dunia ini panggung sandiwara, maka konflik Iran vs Amerika sudah naik level dari sinetron harian jadi drama kolosal berjilid-jilid. Judul besarnya sederhana tapi bikin kepala pening. “Damai? Boleh… tapi nuklir dulu kita bereskan, bos!”

Tanggal 7-8 April 2026, dunia sempat menarik napas panjang. Setelah panas dingin berhari-hari, Amerika dan Iran akhirnya sepakat gencatan senjata sementara selama dua minggu. 


Jalur vital dunia, Selat Hormuz, yang sebelumnya tegang macam urat leher orang ditagih utang, mulai dibuka kembali. Tapi bukanya bukan bebas hambatan, tetap dalam pengawasan Iran, alias lewat boleh, tapi jangan macam-macam.

Pasar global langsung senyum. Harga minyak mulai jinak. Dunia seperti dapat jeda iklan setelah adegan baku hantam panjang. Tapi, yang tenang itu cuma permukaan. Di bawahnya? Arus deras masih berputar.

Masalah utama ternyata bukan soal perang, bukan juga soal jalur minyak. Biang kerok sebenarnya, nuklir.

Iran datang ke meja perundingan dengan 10-poin proposal yang tidak main-main. Mereka minta: pencabutan seluruh sanksi, pengembalian aset beku, penarikan pasukan Amerika dari kawasan, penghentian serangan ke kelompok proksi seperti Hezbollah, kompensasi kerugian perang, sampai pengakuan internasional lewat resolusi PBB. 

Tapi dari semua poin itu, ada satu yang bikin Amerika langsung pasang wajah serius: "Iran tetap ingin mempertahankan hak pengayaan uranium (nuclear enrichment)."

Di sinilah cerita mulai berubah dari drama menjadi komedi tragis.

Amerika, terutama di bawah pernyataan keras Donald Trump, langsung tegas, tidak boleh ada pengayaan uranium. Titik.

Bahkan lebih jauh, Amerika ingin uranium yang sudah diperkaya itu digali dan dihapus sepenuhnya. Istilah Trump, semua “nuclear dust” harus dibersihkan dari dalam tanah Iran.

Iran? Tidak tinggal diam. Mereka memandang program nuklir sebagai, simbol kedaulatan negara, alat tawar dalam diplomasi, dan semacam “jaminan hidup” jika konflik kembali memanas.

Bagi Iran, nuklir itu bukan sekadar teknologi, itu harga diri.

Jadilah situasi yang agak lucu tapi juga tegang. Amerika bilang, “Kalau mau damai, nuklir kau buang.” Iran jawab, “Kalau nuklir kami dibuang, itu bukan damai, itu menyerah.”

Akhirnya, meskipun gencatan senjata dua minggu berjalan, semua pihak sadar ini hanyalah jeda, bukan akhir cerita. 

Selat Hormuz memang kembali dibuka dengan koordinasi militer Iran, dan serangan besar dari Amerika serta Israel ditahan sementara. Tapi kesepakatan damai permanen? Masih jauh panggang dari api.

Untuk melanjutkan proses ini, direncanakan pertemuan lanjutan di Islamabad, Pakistan, mulai 10 April 2026 atau dalam waktu dekat. 

Pakistan tiba-tiba naik panggung jadi mediator penting, mencoba menjembatani dua pihak yang sama-sama keras kepala. Bukan kepala batu ya.

Namun, realitanya sederhana. Selama isu nuklir belum menemukan titik temu, perdamaian akan terus tertahan.

Di satu sisi, dunia sudah sepakat perang ini melelahkan. Ekonomi global terguncang, stabilitas kawasan terganggu, dan ketegangan bisa meledak kapan saja. Tapi di sisi lain, tidak ada yang mau mengalah dalam hal yang paling prinsipil.

Iran melihat nuklir sebagai hak. Amerika melihatnya sebagai ancaman.

Akhirnya, situasi sekarang ibarat dua orang yang sudah duduk satu meja, kopi sudah disajikan, senyum sudah dipaksakan…tapi di tengah meja itu ada satu benda yang membuat suasana tetap kaku, nuklir.

Selama benda itu masih ada dan diperebutkan, damai hanya akan jadi wacana yang diulang-ulang.

Kesimpulan paling jujur, Iran dan Amerika sebenarnya sudah sampai di titik ingin berhenti berkelahi. 

Tapi mereka sama-sama gengsi untuk mundur satu langkah. Dalam politik global, sering kali yang memperpanjang konflik bukan peluru, bukan tank, bukan juga rudal… melainkan kerasnya kepala masing-masing pihak.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya