Berita

Ilustrasi(Artificial Inteligence)

Bisnis

Bitcoin Melemah Tipis Saat Pasar Menimbang Perkembangan Geopolitik

KAMIS, 09 APRIL 2026 | 13:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga Bitcoin turun sekitar 1,15 persen dalam 24 jam ke level 70.849 Dolar AS, sejalan dengan melemahnya total kapitalisasi pasar kripto yang turun 1,26 persen.

Setelah reli tajam sebelumnya akibat kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pasar kini mulai mendingin karena pelaku pasar menilai kembali apakah sentimen positif tersebut bisa bertahan.

Sentimen gencatan senjata yang masih rapuh, ditambah harga minyak yang tetap tinggi, membuat kekhawatiran inflasi belum benar-benar hilang. Akibatnya, minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto menjadi lebih hati-hati, dan aksi ambil untung jangka pendek pun mulai terjadi.


Dari sisi teknikal dan derivatif, tekanan tambahan datang dari penurunan aktivitas leverage. Open interest kontrak berjangka Bitcoin turun sekitar 4,25 persen dalam sehari, melanjutkan tren penurunan besar sejak akhir 2025. Ini menandakan pasar sedang “membersihkan” posisi berisiko tinggi. 

Selain itu, harga Bitcoin juga gagal menembus level resistance penting (Fibonacci 23,6 persen) di sekitar 71.766 Dolar AS dan kini bergerak di bawah rata-rata harga 7 hari, yang mengindikasikan pelemahan jangka pendek.

Meski begitu, kondisi ini tidak sepenuhnya negatif. Berkurangnya leverage membuat pasar lebih stabil dan tidak mudah mengalami likuidasi besar. Namun di sisi lain, harga menjadi lebih sensitif terhadap berita baru, terutama terkait geopolitik dan kebijakan ekonomi global.

Untuk jangka pendek, perhatian utama ada pada area support di kisaran 70.052-70.582 Dolar AS. Jika Bitcoin mampu bertahan di zona ini, harga berpeluang bergerak stabil (konsolidasi) dan mencoba naik kembali ke area 72.000 Dolar AS. Sebaliknya, jika turun menembus 70.000 Dolar AS, ada risiko harga kembali menguji level rendah sebelumnya di sekitar 68.338 Dolar AS.

Faktor penting lain yang perlu dipantau adalah perkembangan gencatan senjata yang diperkirakan berakhir sekitar 22 April 2026. Jika situasi geopolitik kembali memanas atau harga minyak melonjak, tekanan terhadap pasar kripto bisa meningkat. Sebaliknya, jika kondisi tetap stabil, peluang pemulihan masih terbuka.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Biodigester Komunal Sampah Organik Dibangun di Rusunawa

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:11

Polisi Harus Usut Promosi Miras Berkedok Challenge Hafalan Al-Qur'an

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:06

Wisata Probolinggo Jadi Alternatif Usai Bromo Ditutup

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:48

Peluang Besar Jakarta Gaet Investor Lewat JAFEX 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:25

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Layanan Publik Pemda Harus Tetap Berjalan Meski Keadaan Sulit

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:31

Jangan-jangan Gibran Punya Ijazah Sarjana Tanpa Ijazah SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:27

Challenge Hafalan Qur'an demi Miras Melukai Hati Umat Islam

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:10

Abdoel Moeis: Sastrawan, Wartawan, Pahlawan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:34

Dokter Tifa Ajak Rakyat Hadiri Sidang Praperadilan di PN Jaksel

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:06

Selengkapnya