Berita

Ilustrasi (Gambar: Babbe)

Bisnis

Eropa Dibayangi Risiko Inflasi, Saham Sektoral Berguguran

RABU, 08 APRIL 2026 | 07:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa ditutup melemah setelah investor kembali dari libur panjang Paskah. 

Sentimen negatif didorong oleh kekhawatiran atas ultimatum Presiden AS Donald Trump terhadap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, yang memicu ketidakpastian tinggi di pasar global.

Pada penutupan perdagangan Selasa 7 April 2026 waktu setempat, indeks acuan STOXX 600 menghapus keuntungan awal sesi dan berakhir merosot 1,01 persen ke level 590,59. 


Sejak konflik Iran pecah sebulan lalu, indeks ini tercatat telah anjlok lebih dari 5 persen. 

Koreksi juga melanda bursa-bursa utama di berbagai negara Eropa. Di Jerman DAX (Jerman) melemah 1,06 persen atau 246,49 poin ke posisi 22.921,59.

Di Inggris, FTSE 100 merosot 0,84 persen atau 87,50 poin menjadi 10.348,79. Dan di Prancis, CAC 40 terkoreksi 0,67 persen atau 53,65 poin ke level 7.908,74.

Ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak melampaui 110 per barel menciptakan volatilitas tajam pada beberapa sektor spesifik.

Sektor kedirgantaraan dan pertahanan menjadi sektor dengan performa terburuk setelah merosot 2,4 persen. 

Saham Leonardo (Italia) anjlok 8 persen akibat isu pergantian CEO, sementara saham Rolls-Royce dan Rheinmetall masing-masing merosot 3,9 persen dan 2,5 persen.

Saham raksasa semikonduktor ASML ambles 4,1 persen menyusul usulan pengetatan ekspor chip dari AS ke China.

Sektor kesehatan juga melemah 2,1 persen yang terbebani penurunan saham AstraZeneca sebesar 2,3 persen dan saham Novo Nordisk 0,8 persen. 

Situasi di Timur Tengah tidak hanya mengguncang harga saham, tetapi juga memperburuk prospek inflasi dan aktivitas ekonomi di zona euro

Data Maret menunjukkan penurunan tajam aktivitas sektor swasta untuk pertama kalinya dalam delapan bulan akibat gangguan rantai pasok dan biaya energi yang membengkak.

Pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), Dimitar Radev, memperingatkan potensi kenaikan suku bunga agresif jika tekanan inflasi terus memburuk.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memprediksi akan terjadi sekitar tiga kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun ini.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya