Berita

Matauang Dolar AS (Foto: Freepik)

Bisnis

Dolar AS Kokoh di Level 100, Terpaku pada Ultimatum Trump

SELASA, 07 APRIL 2026 | 08:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keperkasaan Dolar Amerika Serikat (AS) masih sulit dibendung. Di pasar uang New York, hingga perdagangan Senin 6 April 2026 waktu setempat, atau Selasa pagi WIB, mata uang Paman Sam terpantau stabil di level tinggi seiring meningkatnya eskalasi di Timur Tengah. 

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tertahan di posisi psikologis 100.

Ketegangan pasar dipicu oleh ultimatum keras Presiden Donald Trump terhadap Iran. Melalui pernyataan di media sosial, Trump menetapkan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, infrastruktur vital Iran terancam menjadi sasaran militer AS.


Meskipun volume perdagangan relatif sepi karena libur di sebagian pasar Asia dan Eropa, dominasi Dolar tetap terasa. Status Dolar sebagai safe-haven (aset aman) menguat akibat gangguan distribusi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Berikut adalah posisi nilai tukar terhadap Dolar AS

Euro bertahan di level 1,1542 Dolar AS
Poundsterling bergerak di kisaran 1,324 Dolar AS
Dolar Australia menguat tipis 0,49 persen ke 0,692 Dolar AS, meski masih di zona terendah dua bulan.
Yen Jepang tertekan di 159,71, mendekati batas psikologis 160 yang merupakan titik terendah dalam 21 bulan.

Konflik yang pecah sejak akhir Februari ini telah mengubah peta jalan kebijakan moneter global. Harga minyak yang meroket di atas 100 Dolar AS per barel memicu kekhawatiran inflasi tinggi dan risiko stagflasi.

Kondisi ini memaksa pelaku pasar melakukan perhitungan ulang. Jika sebelumnya investor memprediksi dua kali penurunan suku bunga pada 2026, kini ekspektasi bergeser jauh. The Fed diproyeksikan tidak akan memangkas suku bunga hingga paruh kedua 2027.

Di tengah kuatnya permintaan terhadap Dolar, Yen Jepang menjadi mata uang yang paling menderita dengan pelemahan sekitar 1,5 persen sejak konflik dimulai. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, telah memberikan sinyal intervensi untuk meredam aksi spekulatif. 

Data terbaru menunjukkan posisi jual (short position) terhadap Yen mencapai 5,7 miliar Dolar AS.  level tertinggi sejak Juli 2024. 

Selama ketegangan geopolitik masih membara, greenback diprediksi tetap menjadi pilihan utama investor global.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya