Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOLJateng/Istimewa)

Politik

Indonesia Terancam Tidak Terlihat di Dunia Imbas Perang Iran

SENIN, 06 APRIL 2026 | 22:52 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Di tengah meningkatnya ketegangan global akibat Perang Iran 2026, ancaman terhadap Indonesia tidak hanya datang dari sisi ekonomi seperti kenaikan harga minyak atau tekanan terhadap APBN. Ancaman yang lebih dalam justru datang dari sesuatu yang jarang disadari: hilangnya posisi Indonesia dalam perhatian dunia.

Hal ini diungkap oleh peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Prof. Dr. Hamka (Uhamka) sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI), Dr. Emaridial Ulza dalam laporan strategis terbarunya yang mengkaji dampak konflik tersebut terhadap Indonesia. 

“Laporan setebal lebih dari 35 halaman ini disusun dari ratusan sumber internasional dan menunjukkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap,” kata Emaridial dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 6 April 2026. 


Menurut dia, kondisi ini bukan berarti Indonesia dipersepsikan buruk oleh dunia internasional, melainkan justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali. 

“Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional tidak semata-mata merespons data, tetapi lebih dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan. 

“Dalam konteks ini, negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” ungkapnya.

Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. 

“Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting,” jelasnya lagi.

Lanjut Emaridial, kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas mengalami tekanan secara bersamaan. Kondisi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.

“Selain tekanan ekonomi, laporan ini juga mengidentifikasi potensi dampak geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dinilai mulai mendorong negara-negara ASEAN untuk bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna,” beber dia.

Ironisnya, sambungnya, di tengah berbagai tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global. Di antaranya adalah keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu investasi human capital terbesar di kawasan. Namun, menurut Emaridial, keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.

Ia menegaskan bahwa di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting.

Masih kata Emaridial, laporan tersebut disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang mengintegrasikan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk melihat keterkaitan antar-isu yang sering luput dari analisis konvensional.

“Di tengah dunia yang semakin kompetitif secara narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan: tetap menjadi penonton dalam percakapan global, atau mulai membangun posisi sebagai aktor yang diperhitungkan. Karena dalam sistem global hari ini, yang tidak terlihat, berisiko untuk tidak dianggap ada,” pungkasnya.
 


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya