Ahmad Doli Kurnia (Tengah), Partaonan Daulay (sebelah kanan Doli) mendeklarasikan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia (World Peace Parliamentary Caucus/WPPC) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 6 April 2026. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)
Anggota DPR Fraksi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tanjung bersama sejumlah Anggota DPR dan DPD RI mendeklarasikan pembentukan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia (World Peace Parliamentary Caucus/WPPC), Senin, 6 April 2026.
Deklarasi tersebut melibatkan lintas fraksi dan lembaga, di antaranya Anggota DPD RI Muhammad Nuh, Ketua Komisi VII DPR RI Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay, Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS Mardani Ali Sera, Anggota DPR RI Fraksi PDIP Sofyan Dedi, Anggota DPR RI Fraksi PKB Eva Monalisa, serta Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Golkar Ahmad Irawan.
Doli menjelaskan, pembentukan kaukus ini merupakan inisiatif moral dan politik parlemen Indonesia dalam merespons situasi global yang semakin memanas akibat konflik bersenjata di berbagai kawasan.
“Ada sekitar 30-an kawan-kawan anggota DPR dan anggota DPD yang tergabung dalam satu grup yang kita sebut sebagai Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia,” ungkap Doli kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia memiliki tanggung jawab untuk ikut aktif meredam konflik global, sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.
Menurutnya, eskalasi konflik global yang dimulai dari perang Rusia-Ukraina sejak 2022, berlanjut konflik Israel-Palestina pada 2023, hingga ketegangan terbaru yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah berdampak luas, termasuk terhadap Indonesia.
“Sudah mulai kena dampaknya. Dan dampaknya sudah sampai ke seluruh masyarakat dunia. Ya kita terancam krisis energi, kita terancam krisis ekonomi, kita tahu situasi di Indonesia semakin hari semakin sulit masyarakat kita karena akibat perang itu. Bahkan secara fisik kita sudah kena langsung, ada 3 warga negara Indonesia kita yang tergabung dalam prajurit TNI itu gugur ya selama menjalankan misi UNIFIL di Lebanon gitu,” jelasnya.
Atas dasar itu, lanjut Doli, kaukus ini dibentuk untuk mendorong langkah konkret parlemen dalam mendukung upaya perdamaian dunia, termasuk memperkuat diplomasi dan menekan eskalasi konflik.
Ke depan, kaukus akan memperluas dukungan dengan mengajak seluruh anggota DPR, DPD, dan MPR RI untuk bergabung. Selain itu, para inisiator juga berencana melaporkan pembentukan kaukus kepada pimpinan lembaga masing-masing agar menjadi gerakan institusional resmi.
Tak hanya itu, kaukus juga akan melakukan kampanye perdamaian, termasuk dengan mendatangi kedutaan besar negara-negara yang terlibat konflik.
Dalam deklarasinya, WPPC menyampaikan sejumlah sikap tegas, di antaranya mengecam segala bentuk agresi militer, menolak perang sebagai instrumen politik, serta mendesak gencatan senjata segera di seluruh wilayah konflik.
Kaukus juga menyoroti pentingnya perlindungan warga sipil dan pasukan penjaga perdamaian PBB, serta mengutuk serangan terhadap misi UNIFIL yang menyebabkan gugurnya prajurit TNI.
Selain itu, WPPC mendorong pemerintah Indonesia mengambil peran lebih aktif sebagai garda terdepan dalam upaya menciptakan perdamaian dunia melalui diplomasi multilateral, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif.
“Deklarasi ini merupakan komitmen moral dan politik Parlemen Indonesia untuk berdiri di garis depan perjuangan perdamaian dunia serta penghormatan atas pengorbanan prajurit TNI yang gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian,” tegas Doli.
Deklarasi kaukus tersebut akan segera diedarkan kepada seluruh anggota hingga pimpinan di Parlemen untuk mendapatkan dukungan tanda tangan.
“Supaya ini menjadi gerakan institusional secara resmi dan kemudian memberikan dukungan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah yang lebih serius, lebih tegas untuk mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian dunia,” demikian Doli.