Berita

Ilustrasi (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Al-Jazeera)

Dunia

Rusia Larang Ekspor Bensin hingga Juli 2026

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 14:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah Eropa, Rusia mengambil langkah tegas dengan melarang ekspor bensin oleh para produsen hingga akhir Juli 2026. 

Pemerintah Rusia menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan bahan bakar, terutama saat musim tanam pertanian, serta merespons kenaikan harga minyak global. Fokus utama kebijakan ini adalah memastikan pasokan domestik tetap aman dan harga tidak melonjak.

"Langkah ini bertujuan untuk menjaga pasokan pasar domestik tetap stabil di tengah tingginya permintaan bahan bakar musiman," menurut pernyataan pemerintah, dikutip dari Reuters, Junat 3 April 2026.


Meski demikian, larangan ekspor tidak berlaku untuk semua negara. Rusia tetap membuka pasokan bagi negara-negara yang memiliki perjanjian bilateral, seperti Mongolia, sehingga hubungan energi strategis tetap terjaga.

Langkah pembatasan ini bukan hal baru. Sebelumnya, Rusia juga beberapa kali menerapkan kebijakan serupa untuk menekan kenaikan harga dan mengatasi risiko kekurangan pasokan. Tahun lalu, sejumlah wilayah Rusia bahkan mengalami kelangkaan bensin, dipicu oleh serangan terhadap kilang minyak serta lonjakan permintaan musiman.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah Ukraina yang berada di bawah kendali Rusia, yang turut melaporkan kekurangan bahan bakar. Hal ini mencerminkan betapa rentannya rantai pasokan energi di tengah konflik yang masih berlangsung.

Dari sisi global, keputusan ini berpotensi memperketat pasokan. Rusia sebelumnya mengekspor sekitar 5 juta metrik ton bensin per tahun atau setara 117.000 barel per hari. Dengan dihentikannya ekspor untuk sementara, pasar internasional - terutama Eropa - bisa merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan harga dan terbatasnya pasokan.

Secara keseluruhan, kebijakan ini memperlihatkan bahwa tekanan di pasar energi global masih tinggi. Di saat Eropa menghadapi kelangkaan bahan bakar, pembatasan ekspor dari Rusia berpotensi memperburuk situasi dalam waktu dekat.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya