Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Menanti Langkah Tegas Indonesia di Zona Konflik

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 04:45 WIB

DUA prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia meninggal dunia pada Selasa, 31 Maret 2026, ketika sebuah ledakan menghantam konvoi logistik United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di dekat Bani Hayyan, Sektor Timur. Sehari sebelumnya, seorang prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia lainnya juga meninggal dunia akibat ledakan di dalam pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, yang juga berada di Sektor Timur.

Setelah insiden tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) langsung mengumumkan bahwa tiga prajurit TNI penjaga perdamaian asal Indonesia gugur dalam dua insiden terpisah di wilayah operasi UNIFIL.

Peristiwa ini tidak boleh dipandang sebagai insiden biasa. Gugurnya prajurit penjaga perdamaian Indonesia merupakan peringatan serius bahwa situasi keamanan di wilayah penugasan telah memburuk secara drastis. Untuk menjaga kredibilitas dan reputasi internasional, negara wajib memastikan bahwa setiap personel yang dikirim dalam misi perdamaian internasional memperoleh perlindungan maksimal, kejelasan mandat, dan dukungan diplomatik yang kuat.


Penempatan pasukan penjaga perdamaian Indonesia di wilayah Lebanon merupakan risiko yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal, mengingat wilayah tersebut masih berada pada situasi eskalasi konflik yang tinggi, terutama antara Israel dengan kelompok bersenjata Hizbullah.

Karena itu, pemerintah Indonesia perlu langkah cepat, tegas, dan terukur, tidak hanya untuk menghormati pengorbanan para prajurit yang gugur, tetapi juga untuk menjamin keselamatan seluruh personel Indonesia yang masih bertugas di wilayah perang dengan eskalasi tinggi. Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah tegas dan terukur untuk mencegah bertambahnya korban jiwa di kalangan prajurit TNI yang bertugas di zona konflik.

Terkait peristiwa ini, Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri, harus segera berkoordinasi dengan otoritas PBB, termasuk UNIFIL, guna memastikan proses pemulangan jenazah para prajurit yang gugur berjalan cepat, layak, dan terhormat, mengecam keras serangan terhadap prajurit penjaga perdamaian sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional, khususnya prinsip perlindungan terhadap personel misi perdamaian, mendorong keterlibatan lembaga-lembaga HAM internasional untuk mempercepat dan memperkuat proses penyelidikan atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon. 

Lembaga-lembaga tersebut dapat mencakup badan antarpemerintah seperti Dewan HAM PBB dan Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR), serta organisasi independen seperti Amnesty International,  International Federation for Human Rights (FIDH), dan Human Rights Watch, yang memiliki mandat dalam penyelidikan, advokasi, dan penguatan standar hukum internasional, melakukan evaluasi keamanan secara menyeluruh dan mempertimbangkan relokasi pasukan Indonesia dari pangkalan-pangkalan UNIFIL di wilayah Lebanon yang saat ini berada dalam situasi sangat kritis dan berbahaya. 

Per akhir Maret 2026, kondisi keamanan di Lebanon Selatan menunjukkan eskalasi konflik militer yang intens antara Israel dan kelompok bersenjata, termasuk Hezbollah, sehingga menimbulkan risiko keselamatan yang sangat tinggi bagi pasukan penjaga perdamaian, dan yang terpenting Indonesia harus mendorong Dewan Keamanan PBB untuk memperjelas kembali Rules of Engagement (RoE) atau aturan keterlibatan pasukan, yaitu pedoman internal militer yang menentukan kapan, di mana, dan bagaimana kekuatan dapat digunakan dalam situasi konflik. 

Kejelasan RoE sangat penting sebagai dasar penilaian apakah prajurit TNI masih dapat menjalankan mandat penjaga perdamaian secara aman, atau apakah Indonesia perlu mengakhiri penugasan pasukannya di Lebanon Selatan dan Lebanon Timur secepat mungkin.

Selain itu, secara strategis, merujuk pada Resolusi Majelis Umum PBB 60/251, Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB tahun 2026 memiliki keistimewaan (privilege) dan kewenangan untuk: menunjuk ahli independen (special procedures) untuk melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan pelanggaran hukum internasional dan HAM terkait gugurnya pasukan UNIFIL, guna mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.  Dan menetapkan agenda HAM global dan mendorong dialog dalam penanganan pelanggaran hukum internasional dan HAM di Lebanon.

Yugolastarob Komeini
Peneliti Populi Center bidang pertahanan dan hubungan internasional


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya