Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Seandainya Google dan Facebook Menjadi Bank

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 01:59 WIB

GOOGLE dan Facebook saat ini bukan sekadar perusahaan teknologi. Mereka adalah sistem pengumpul data terbesar yang pernah ada, dengan basis pengguna global yang mencakup hampir seluruh populasi digital dunia, termasuk Indonesia sebagai salah satu pasar aktif dan stabil.

Setiap interaksi--pencarian, lokasi, klik, percakapan, relasi sosial--ditangkap, disusun, dan dipetakan. Bukan hanya perilaku yang terlihat, tetapi juga pola keinginan: apa yang dicari, apa yang ditunda, apa yang diinginkan tetapi belum diwujudkan. Ini bukan asumsi, melainkan hasil dari sistem pengolahan data yang berjalan terus-menerus dan terukur.

Secara operasional, Facebook bahkan melangkah lebih dalam. Struktur profilnya dibangun dari hubungan nyata: keluarga, teman, pasangan, hingga riwayat interaksi sosial. Pertanyaan-pertanyaan seperti nama ibu kandung yang dalam sistem keuangan digunakan sebagai verifikasi identitas--sudah menjadi bagian dari data yang mereka kumpulkan sejak awal pengguna membuat akun. Artinya, fondasi identitas yang biasa dimiliki oleh lembaga keuangan telah lebih dulu dikuasai oleh platform ini.


Jika suatu saat Google dan Facebook membuka bank, maka mereka tidak memulai dari nol. Mereka sudah memiliki tiga komponen utama yang selama ini menjadi hambatan terbesar dalam perbankan:

Pertama, data identitas dan perilaku--bukan hanya siapa nasabah, tetapi bagaimana ia hidup dan mengambil keputusan.

Kedua, pemetaan risiko kredit--kemampuan menilai siapa yang layak diberi pinjaman, dalam jumlah berapa, dan kapan.

Ketiga, basis pengguna aktif--pasar yang sudah ada, tanpa perlu akuisisi mahal.

Dalam kondisi tersebut, penawaran kredit tidak lagi bersifat umum, tetapi presisi. Sistem dapat langsung menarget individu yang paling mungkin membayar dengan nilai kredit yang disesuaikan secara real-time. Efisiensi ini tidak bisa ditandingi oleh sistem perbankan konvensional yang masih bergantung pada dokumen formal dan riwayat transaksi terbatas.

Selain itu, kedua platform ini telah menjadi tulang punggung jaringan periklanan global. Banyak bank saat ini bergantung pada mereka untuk menjangkau nasabah. Jika Google dan Facebook menjadi bank, maka biaya promosi praktis mendekati nol, karena mereka adalah pemilik langsung kanal distribusi perhatian manusia.
Implikasinya sederhana dan langsung. 

Bank komersial--baik konvensional maupun berlabel syariah--tidak lagi berhadapan dengan pesaing setara. Mereka berhadapan dengan sistem yang: (1)  sudah memiliki data lebih lengkap, (2) sudah memiliki pasar aktif, dan (3) menguasai distribusi informasi.

Dalam kondisi seperti ini, fungsi bank dapat digantikan secara bertahap tanpa perlu konfrontasi terbuka. Bukan karena bank kalah secara regulasi, tetapi karena kalah secara efisiensi operasional.

Perubahan ini tidak membutuhkan deklarasi. Ia cukup berjalan melalui integrasi layanan: pembayaran, pinjaman, hingga pengelolaan aset--semua berada dalam satu ekosistem yang sudah digunakan setiap hari.

Ketika itu terjadi, bank bukan lagi pusat sistem keuangan. Mereka hanya menjadi salah satu opsi yang perlahan ditinggalkan.


Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub
 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya