Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev. (Foto: VOA)
Pemerintah Rusia menawarkan insentif besar kepada mahasiswa agar bersedia bergabung dengan unit drone yang bertempur dalam perang melawan Ukraina. Para mahasiswa direkrut untuk berperan sebagai operator maupun insinyur dalam pengoperasian teknologi drone militer.
Upaya perekrutan tersebut diperkuat dengan dokumen yang menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan di wilayah Ryazan, Rusia bagian tengah, diberikan kuota untuk mengirim pekerjanya bergabung dengan militer.
Langkah ini dinilai sebagai strategi Moskow untuk menambah kekuatan personel di tengah konflik dengan Ukraina yang kini memasuki tahun kelima. Di saat yang sama, pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat masih tertunda di tengah memanasnya konflik Iran.
Meski begitu, Kremlin menegaskan mobilisasi militer secara umum belum menjadi agenda pemerintah. Pejabat tinggi Rusia juga membantah adanya kekurangan prajurit, meskipun Ukraina mengklaim pasukannya telah menimbulkan kerugian besar bagi militer Rusia.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev mengatakan, sistem perekrutan sukarelawan yang menawarkan paket finansial besar masih berjalan efektif. Menurutnya, lebih dari 400 ribu orang mendaftar sebagai relawan pada tahun lalu, sementara lebih dari 80 ribu orang telah bergabung sepanjang tahun ini.
Sementara Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengonfirmasi ada dorongan kepada mahasiswa untuk bergabung dengan pasukan drone Rusia, divisi baru yang dibentuk pada akhir tahun lalu atas perintah Presiden Vladimir Putin.
Menurut Peskov, tawaran tersebut terbuka bagi siapa saja, termasuk pekerja, mahasiswa, maupun pengangguran.
“Tawaran ini berlaku untuk semua pihak, pekerja, mahasiswa, dan pengangguran. Ini adalah tawaran terbuka untuk bergabung dengan jenis unit militer baru,” ujar Peskov dikutip dari
Independent, Kamis, 2 April 2026.
Langkah Rusia menargetkan mahasiswa dinilai sebagai upaya menambah sumber daya manusia terampil di pasukan drone. Dalam konflik yang telah berkembang menjadi perang berkepanjangan, peran drone dari kedua pihak–Rusia maupun Ukraina–kian penting.
Sejumlah universitas di Rusia bahkan menawarkan berbagai fasilitas bagi mahasiswa yang bersedia bergabung. Far Eastern Federal University di Vladivostok, misalnya, menjanjikan cuti akademik minimal satu tahun yang dapat diperpanjang, pembebasan biaya kuliah saat kembali, akomodasi gratis, serta bantuan dana pendidikan.
Universitas tersebut juga menyatakan siap menanggung biaya peralatan militer yang dibutuhkan para mahasiswa yang bergabung.
Selain fasilitas tersebut, mahasiswa juga dijanjikan paket finansial yang cukup besar menurut standar lokal. Pada tahun pertama, gaji yang ditawarkan mencapai 5,5 juta Rubel atau sekitar 68 ribu Dolar AS, ditambah pembayaran satu kali sebesar 2,5 juta Rubel setelah menyelesaikan pelatihan.
Mereka juga menerima tunjangan bulanan sebesar 240 ribu rubel serta bonus tambahan 200 ribu Rubel dari pihak universitas.