Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Wall Street Hijau, Saham Antariksa Meroket

KAMIS, 02 APRIL 2026 | 08:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street menutup pertengahan pekan ini dengan cukup baik didorong oleh optimisme investor bahwa konflik di Timur Tengah akan segera mereda. 

Sentimen positif muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa negaranya bisa “keluar dari Iran dengan cukup cepat”, meski tetap membuka kemungkinan serangan terbatas jika diperlukan. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa ketegangan geopolitik akan berkurang. 

Dikutip dari Reuters, Kamis 2 April 2026, pada penutupan perdagangan Rabu indeks S&P 500 naik 0,72 persen ke 6.575,32, Nasdaq melonjak 1,16 persen ke 21.840,95, dan Dow Jones menguat 0,48 persen ke 46.565,74. Kenaikan ini didorong terutama oleh saham-saham teknologi besar seperti Alphabet yang naik 3,4 persen, serta Meta dan Amazon yang masing-masing menguat lebih dari 1 persen.


Penguatan juga terjadi di sektor semikonduktor, dengan indeks chip PHLX naik 2,82 persen untuk hari kedua berturut-turut. Sementara itu, saham-saham terkait industri antariksa ikut melonjak setelah muncul kabar bahwa SpaceX diam-diam mengajukan IPO. Beberapa saham yang terdongkrak antara lain Planet Labs yang naik 10 persen, Intuitive Machines 9 persen, Rocket Lab 2 persen, serta dana investasi Destiny Tech100 yang naik 9,1 persen.

Di sisi lain, beberapa saham mengalami tekanan. Nike anjlok 15,5 persen ke level terendah dalam satu dekade setelah memperkirakan penurunan penjualan kuartal keempat. Sebaliknya, Intel melonjak 8,8 persen setelah mengumumkan rencana pembelian kembali saham dari mitranya di pabrik Irlandia senilai 14,2 miliar Dolar AS. Saham Eli Lilly juga naik 3,8 persen setelah obat penurun berat badan terbarunya mendapat persetujuan regulator AS.

Dari sisi sektor, saham energi justru turun tajam 3,9 persen seiring merosotnya harga minyak. Sebaliknya, saham maskapai penerbangan naik 2,3 persen karena biaya bahan bakar yang lebih rendah.

Data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang cukup stabil. Perekrutan tenaga kerja swasta terus meningkat pada Maret, penjualan ritel mencatat kenaikan tertinggi dalam tujuh bulan pada Februari, dan aktivitas manufaktur juga mengalami perbaikan. 

Namun, kekhawatiran inflasi masih membayangi, sehingga pelaku pasar kini lebih yakin bahwa bank sentral AS (The Fed) kemungkinan akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, bukan menurunkannya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya