Berita

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa))

Politik

JK Dorong Kenaikan BBM Akibat Perang Iran, Ini Alasannya

KAMIS, 02 APRIL 2026 | 00:32 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) membuat sebuah video yang di dalamnya menyampaikan pernyataan yang ikut mendorong kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
 
Hal tersebut disampaikan JK dalam video yang beredar luas di media sosial X, dikutip redaksi pada Rabu malam, 1 April 2026.

“BBM yang sekarang ini mengalami masalah kenaikan harga karena perang di Timur Tengah, maka untuk mengatasi itu, jalan pertama yang baik kita laksanakan, harus kita laksanakan ialah menyesuaikan harganya sesuai dengan harga internasional,” ujar JK.


Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu menyampaikan beberapa alasan yang membuat harga BBM di Indonesia harus mengikuti harga minyak mentah dunia yang kini suda dipatok 100 Dolar AS per barel.  

“Itu karena ada dua hal. Pertama, dengan menaikan harganya, maka subsidi kita berkurang, sehingga fiskal kita tidak terbebani terlalu besar,” urai JK.

“Kedua, justru kalau kita naikan harganya, maka pemakaian BBM akan berkurang, orang akan berhemat. Ketiga, yang memakai BBM itu kali yang punya mobil, yang punya motor, dan tentu yang lainnya,” sambungnya.

Lebih lanjut, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu memandang, bagi masyarakat yang memiliki mobil memiliki kemampuan untuk membeli BBM meskipun dengan harga yang tinggi. 

“Dan yang motor tentu berhemat, jangan banyak bepergian,” tambahnya memperjelas.

Lebih dari itu, JK berkaca dari perkembangan sejumlah negara di ASEAN, yang memiliki situasi kondusif di dalam negeri meskipun harga BBM dilakukan penyesuaian oleh pemerintahannya.

“Pengalaman di negara-negara di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, mereka menaikan itu (harga BBM), tidak ada reaksi demo di masyarakat,” tuturnya.

“Karena masyarakat memahami itu bukan faktor internal tapi karena faktor eksternal yang tidak bisa ditunda, yang tidak bisa diatasi oleh pemerintah,” jelas dia.

Oleh karena itu, JK mendorong agar pemerintah juga tidak takut melakukan penyesuaian harga untuk menyelamatkan kondisi keuangan negara dan perekonomian nasional, di tengah penutupan Selat Hormuz akibat memanasnya perang antara Iran dengan AS dan Israel.

“Jadi untuk kestabilan ekonomi kita, langkah itu harus menjadi pertimbangan. Pertama untuk mengurangi subsidi dan kedua justru untuk mengurangi penggunaan BBM itu,” pungkasnya.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya