Berita

Pekerja di SPPG Bojong Koneng, Bogor menyiapkan MBG. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Efisiensi MBG Dinilai Tanggung, Ekonom: Harusnya Bisa Hemat Sampai Rp200 Triliun

RABU, 01 APRIL 2026 | 12:17 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kebijakan efisiensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya menghemat 10 persen dari total anggaran jumbo Rp335 triliun yang dimiliki Badan Gizi Nasional (BGN).

Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai langkah efisiensi pemerintah secara umum sudah tepat, namun khusus untuk MBG masih belum optimal.

"Secara umum bagus, banyak pos-pos yang diefisienkan. Namun ada satu pos yang terasa masih janggal dan mengganjal, yaitu pos efisiensi MBG. Mengapa efisiensinya cuma Rp20 T? Itu gak sampai 10 persen dari total anggaran MBG yang sebesar Rp335 T," kata Noval kepada RMOL pada Rabu, 1 April 2026.


Menurutnya, jika dilihat dari nilai tambah yang dirasakan penerima manfaat, program MBG seharusnya bisa ditekan lebih dalam. Ia bahkan memperkirakan potensi penghematan bisa mencapai Rp100 triliun hingga Rp200 triliun.

"Padahal dilihat dari segi nilai tambahnya yang tidak begitu signifikan (bagi penerima manfaat, yaitu para siswa) mestinya MBG perlu diefisienkan jauh lebih besar lagi. Mestinya penghematannya bisa sampai Rp100T sampai Rp200T," tegasnya.

Noval menjelaskan, jika dianalisis menggunakan pendekatan Activity-Based Management (ABM), program MBG lebih condong sebagai aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah atau non value added activity.

"Program MBG itu lebih condong ke non value added activity, sehingga biaya yang dikucurkan untuk program MBG termasuk non value added cost, biaya yang tidak memberi nilai tambah, atau bahasa kasarnya adalah biaya yang sia-sia. Sia-sia karena tidak memberi nilai tambah," katanya.

Ia menambahkan, ciri utama aktivitas yang tidak bernilai tambah adalah ketika dihentikan tidak menimbulkan dampak signifikan. Berbeda dengan belanja negara lain seperti transfer ke daerah (TKD) atau gaji pegawai yang berpotensi memicu gejolak jika dihentikan.

"Coba kalau MBG yang dihentikan, saya yakin tidak akan menimbulkan gejolak apa-apa, kondisinya akan sama dengan setahun lalu ketika belum ada MBG," pungkasnya.

Sebelumnya, pemerintah resmi memangkas frekuensi penyaluran MBG dari enam hari menjadi lima hari selama sepekan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan langkah efisiensi ini dapat menghemat anggaran hingga Rp20 triliun di tengah gejolak geopolitik di negara Teluk.

"Pemerintah mendorong optimalisasi dari pada program MBG sebagai program, dan program ini diarahkan untuk penyediaan makanan segar selama 5 hari dalam seminggu. Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp20 triliun," ujarnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Aplikasi Digital Berbasis White Label Dukung Operasional KDKMP

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:59

Wamenaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Multistrada

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:43

DPD Dorong Kemenko Polkam Lahirkan Peta Jalan Keamanan Papua

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:28

Mengoptimalkan Potensi Blue Ocean Economy

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:53

Wagub Lampung Minta Gapembi Kawal Pemenuhan Standar MBG

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:35

Analis Geopolitik: Tiongkok Berpotensi sebagai Global Stabilizer

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:23

Prabowo dan Tumpukan Uang

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:58

ANTAM Tetap Fokus Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:46

Sukseskan Program Nuklir, PKS Dorong Pembentukan Kembali BATAN

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:23

Paradigma Baru Biaya Logistik

Kamis, 14 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya