Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Dunia

De-eskalasi Perang AS-Iran Masih Rapuh

RABU, 01 APRIL 2026 | 11:37 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026 kini memasuki hari ke-32. Keputusan Donald Trump yang kembali memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga 6 April 2026 memunculkan pertanyaan besar, apakah ini sinyal de-eskalasi atau sekadar taktik membeli waktu?

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menilai langkah Trump lebih mencerminkan manuver strategis ketimbang upaya damai yang nyata.

Trump sebelumnya melontarkan ancaman keras akan menghancurkan fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak hingga Pulau Kharg sebagai pusat ekspor minyak, jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz. Ancaman itu muncul setelah Iran menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan awal AS-Israel.


Meski Trump mengklaim pembicaraan berjalan baik dan bahkan menyebut adanya permintaan dari Teheran, Iran justru membantah keras adanya negosiasi langsung. Pemerintah Iran juga menolak proposal damai 15 poin dari AS yang dinilai sepihak dan tidak adil.

"Faktor Pendukung De-eskalasi adalah tekanan Ekonomi dan Kalkulasi Trump. Ada tiga indikator kuat yang menunjukkan potensi de-eskalasi," kagta Didik lewat akun X miliknya, Rabu, 1 April 2026. 

Pertama, dampak ekonomi global yang tak tertahankan. Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 104 dolar AS per barel, bahkan berpotensi mencapai 150 hingga 200 dolar jika serangan terhadap fasilitas energi Iran berlanjut. Kondisi ini dinilai bisa memukul inflasi AS dan berdampak pada posisi politik Trump di dalam negeri.

Kedua, gaya negosiasi Trump yang dikenal menggunakan tekanan maksimal lalu membuka ruang jeda, sebagaimana pernah terjadi dalam relasinya dengan Korea Utara dan China. Ketiga, adanya sinyal internal AS yang membuka kemungkinan penghentian operasi militer dan beralih ke jalur diplomasi.

Namun demikian, Didik menegaskan de-eskalasi masih sangat rapuh. Iran tetap menolak keras tekanan AS dan tidak ingin kehilangan kendali atas Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis mereka. Selain itu, Israel tetap melanjutkan serangan secara independen, termasuk terhadap fasilitas nuklir Iran di Isfahan.

"Selain itu, Israel sebagai Variabel Tak Terduga. Israel terus melanjutkan serangan independen dan menolak gencatan senjata yang dianggap terlalu lunak," jelasnya.

Meski begitu, skenario optimistis tetap terbuka dengan peluang sekitar 30 hingga 40 persen. Jika jalur komunikasi tidak langsung melalui mediator seperti Qatar, Oman, atau Pakistan berhasil, maka pembukaan bertahap Selat Hormuz dan penghentian serangan besar bisa tercapai sebelum tenggat waktu.

"Skenario De-eskalasi Optimis (30–40% probabilitas). Backchannel melalui mediator (Qatar/Oman/Pakistan) berhasil. Iran membuka Hormuz secara bertahap, AS-Israel menghentikan serangan besar-besaran, dan kesepakatan sementara tercapai sebelum deadline. Harga minyak turun tajam, pasar global stabil,” pungkasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya