Berita

Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Hukum

KPK Bidik Pengusaha Rokok dalam Skandal Suap Bea Cukai, Pemeriksaan Segera Dimulai

SELASA, 31 MARET 2026 | 10:19 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan suap di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). 

Kali ini, lembaga antirasuah tersebut mulai menyasar pihak swasta, termasuk pengusaha rokok yang diduga terlibat dalam praktik ilegal di sektor kepabeanan.

Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan bahwa penyidik telah melayangkan surat panggilan kepada sejumlah pengusaha rokok dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.


“Minggu lalu kami sudah mengirimkan surat panggilan kepada para pengusaha rokok. Pemeriksaan akan segera dilakukan,” ujar Asep, Selasa 31 Maret 2026. 

Pemanggilan tersebut merupakan bagian dari pengembangan kasus yang tidak hanya menjerat pejabat internal, tetapi juga pihak swasta yang diduga ikut menikmati praktik suap dan pengaturan impor.

KPK menegaskan proses penyidikan masih berjalan dan akan terus berkembang sesuai temuan di lapangan.

Dalam pengembangan perkara, KPK sebelumnya telah menyita uang tunai sebesar 78 ribu Dolar Singapura atau lebih dari Rp1 miliar, serta satu unit mobil, dari seorang aparatur sipil negara (ASN) DJBC di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Tak hanya itu, penyidik juga menemukan “safe house” lain di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, yang menyimpan uang tunai senilai Rp5,19 miliar dalam berbagai mata uang, tersimpan dalam lima koper. Uang tersebut diduga berasal dari praktik suap terkait kepabeanan dan cukai.

Pada 26 Februari 2026, KPK menetapkan Kepala Seksi Intelijen Cukai DJBC, Budiman Bayu Prasojo, sebagai tersangka dan langsung melakukan penahanan sehari setelahnya.

Ia diduga berupaya menghilangkan barang bukti dengan memerintahkan bawahannya membersihkan sebuah lokasi penyimpanan (safe house). Namun, penyidik justru menemukan lokasi lain yang berisi uang dalam jumlah besar.

Kasus ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 4 Februari 2026. Dalam operasi tersebut, KPK menetapkan enam tersangka, terdiri dari pejabat DJBC dan pihak swasta dari perusahaan impor.

Sejumlah barang bukti juga telah disita, termasuk uang tunai berbagai mata uang, logam mulia lebih dari 5 kilogram, hingga jam tangan mewah, dengan total nilai mencapai Rp40,5 miliar.

Dalam konstruksi perkara, dugaan praktik suap bermula sejak Oktober 2025, ketika terjadi kesepakatan antara oknum DJBC dan pihak swasta untuk mengatur jalur impor.

Pengaturan tersebut membuat barang impor dapat lolos tanpa pemeriksaan fisik, sehingga memungkinkan masuknya barang ilegal, termasuk produk palsu dan tidak sesuai ketentuan.

Sebagai imbalannya, pihak swasta diduga memberikan setoran rutin setiap bulan kepada oknum pejabat sejak akhir 2025 hingga awal 2026.

KPK memastikan proses penyidikan akan terus berlanjut, termasuk pemeriksaan terhadap para pengusaha rokok yang telah dipanggil.

“Sudah kami tindak lanjuti. Ditunggu saja pemeriksaannya dalam waktu dekat,” kata Asep.

Kasus ini menjadi salah satu sorotan besar dalam upaya pemberantasan korupsi di sektor kepabeanan, yang selama ini dinilai rawan praktik suap dan penyelundupan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya