Berita

Pakar ekonomi dan pasar modal, Ferry Latuhihin (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Forum Keadilan TV)

Bisnis

Konflik Iran-Israel Bayangi Ekonomi Global, Pakar Soroti Kerentanan Indonesia

SELASA, 31 MARET 2026 | 09:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Lebih dari satu bulan konflik antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan Amerika Serikat, arah situasi geopolitik global kian tidak menentu. Meski sempat muncul ultimatum serangan terhadap infrastruktur energi Iran, langkah tersebut ditunda oleh Donald Trump demi membuka ruang diplomasi.

Di tengah ketidakpastian ini, dampak terhadap ekonomi global, terutama Indonesia, menjadi perhatian serius. 

Pakar ekonomi dan pasar modal, Ferry Latuhihin, menilai bahwa konflik ini memperparah kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya sudah rapuh sejak sebelum perang terjadi.



Ekonomi Sudah Rapuh Sebelum Konflik


Menurut Prof. Ferry, indikator makro Indonesia menunjukkan adanya ketidaksinkronan. Di satu sisi, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11 persen pada 2025. Namun di sisi lain, persepsi pasar justru memburuk, tercermin dari penurunan outlook menjadi negatif.

“Kalau datanya bagus, kenapa pasar merespons negatif? Ini menunjukkan ada masalah fundamental,” ujarnya dalam sebuah podcast baru-baru ini, dikutip di Jakarta, Selasa 31 Maet 2026.

Ia menambahkan, sebelum konflik memanas, tekanan terhadap Rupiah sudah terjadi, bahkan mendekati Rp17.000 per Dolar AS. Pasar saham pun telah lebih dulu mengalami pelemahan.

Konflik yang terjadi kini menjadi pemicu tambahan yang memperburuk situasi. Salah satu risiko terbesar adalah lonjakan harga minyak global. 

Prof. Ferry memperingatkan bahwa jika harga minyak bertahan di atas 90 Dolar AS per barel selama beberapa bulan, dampaknya bisa sangat serius.

Di pasar keuangan, gejolak sudah terlihat jelas. Yield obligasi pemerintah Indonesia mendekati 7 persen, menandakan penurunan harga obligasi. Sementara itu, pasar saham bergerak sangat volatil dan nilai tukar Rupiah mengalami fluktuasi tajam.

“Kondisi ini menyulitkan pelaku usaha dalam menentukan harga dan merencanakan bisnis,” jelasnya.


Risiko Krisis Energi dan Inflasi Tinggi


Dibandingkan negara lain, Indonesia dinilai berada dalam posisi yang cukup rentan. Salah satu indikatornya adalah cadangan bahan bakar minyak (BBM) yang hanya mencukupi sekitar 20 hari.

Beberapa negara di kawasan sudah mulai mengambil langkah antisipatif. Filipina bahkan telah mendeklarasikan darurat energi, sementara Malaysia mulai menyesuaikan kebijakan energinya.

Prof. Ferry juga mengungkapkan bahwa dampak lanjutan mulai terasa pada sektor industri. Harga bahan baku plastik, misalnya, telah meningkat hingga 70 persen, yang pada akhirnya akan memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari.

Jika kondisi ini berlanjut, inflasi berpotensi melonjak hingga dua digit.


Ancaman Daya Beli dan Stabilitas Sosial


Kombinasi antara inflasi tinggi dan penurunan daya beli masyarakat menjadi perhatian utama. Prof. Ferry menilai kondisi ini berpotensi memicu keresahan sosial.

“Secara logika ekonomi, tekanan seperti ini bisa mengarah ke instabilitas sosial. Memang tidak pasti terjadi, tapi risikonya ada,” katanya.

Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, Prof. Ferry menekankan bahwa risiko yang dihadapi bersifat sistemik, artinya hampir semua instrumen investasi terdampak.

Ia menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dan sementara waktu menghindari instrumen berisiko seperti saham dan obligasi.

“Untuk saat ini, yang relatif lebih aman adalah reksa dana pasar uang,” ujarnya.

Meski demikian, peluang tetap ada di sektor informal, seperti layanan transportasi berbasis aplikasi yang cenderung meningkat saat kondisi ekonomi memburuk. Namun, ia mengingatkan bahwa ini bukan rekomendasi investasi langsung, mengingat pasar secara keseluruhan masih berisiko tinggi.

Menghadapi situasi ini, Prof. Ferry menilai pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah strategis, terutama dalam menjaga ketahanan energi.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain memastikan ketersediaan cadangan BBM, menyiapkan anggaran subsidi secara terukur, serta mengatur distribusi energi secara efektif.

Ia juga mengkritisi kebijakan pembatasan aktivitas seperti work from home (WFH) yang dinilai kurang efektif dalam mengendalikan konsumsi energi.

“Yang bisa dikontrol pemerintah adalah sisi pasokan, bukan aktivitas masyarakat. Jadi distribusi BBM yang harus diatur,” tegasnya.


2026 Diprediksi Penuh Tantangan


Menutup analisanya, Prof. Ferry menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode yang berat, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan.

Dengan meningkatnya risiko global, arus investasi asing diperkirakan tidak akan signifikan. Oleh karena itu, fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas dan bertahan di tengah tekanan.

“Ini bukan hanya soal tumbuh, tapi bagaimana kita bisa bertahan,” pungkasnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya